Bupati Alor: Festival Al-Qur’an Tua Menjadi Momentum Cinta Damai

Bupati Alor Drs. Amon Djobo, pidato di acara pembukaan Festival Al-Qur'an Tua, Kamis (30/7/2020) di Desa Alor Besar.
Bupati Alor Drs. Amon Djobo, pidato di acara pembukaan Festival Al-Qur'an Tua, Kamis (30/7/2020) di Desa Alor Besar.

Kalabahi –

Bupati Alor Drs. Amon Djobo mengajak kaum muslimin dan muslimat, menjadikan Festival Al-Quran Tua sebagai momentum memperkokoh kerukunan antar umat beragama dan hidup cinta damai. Ia juga meminta nilai sejarah Al-Quran Tua harus diwariskan kepada generasi penerus Alor.

“Karena ini sejarah, tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Tapi yang namanya sejarah harus dituturkan, disampaikan, diwartakan kepada generasi ke generasi yang akan datang,” kata Amon dalam pidatonya di acara Festival Al-Quran Tua, Kamis (30/7) di Alor Besar.

“Maka di tempat ini Al-Qur’an Tua masuk sebagai wahana untuk basudara, orang-orang tua muslim di daerah ini yang mengajarkan kaum muslimin dan muslimat di daerah ini untuk mencintai budaya, untuk toleran, untuk damai, untuk memberi diri bagi kepentingan banyak orang. Tidak hidup sendiri,” sambung Bupati.

Baca Juga: https://tribuanapos.net/2020/08/03/bupati-alor-usul-gubernur-dana-jalan-kokar-mali-dialihkan-ke-kalabahi-kokar/

Menurutnya, alasan utama Festival ini digelar perdana adalah pemerintah inginkan nilai sejarah Al-Quran Tua dapat diwariskan kepada generasi Alor. Sebab perjalanan Al-Quran Tua dari Ternate Maluku Utara hingga tiba di Alor memiliki makna tersendiri dalam kehidupan umat beragama.

“Hari ini semua makna yang tertuang di dalam Al-Qur’an Tua ini kita lakukan lewat Festival Al-Qur’an Tua hari ini. Tentu mengingatkan kembali empat setengah abad yang lalu, Al-Qur’an masuk dengan susah payah. Mulai dari Ternate melewati laut Banda sampai masuk ke Selat Ombay. Al-Qur’an Tua masuk di Alor lewat Selat Ombay, Selat Ombay berhenti bergemuruh. Luar biasa Al-Qur’an Tua ini,” ujarnya.

“Nilai sejarah ini sangat mahal. Karena mahal maka nilai sejarah ini harus kita tuturkan secara terus menerus, bukan saja kepada basudara kakak adik umat muslim tetapi seluruh masyarakat di daerah ini,” ungkapnya.

Baca Juga: https://tribuanapos.net/2020/07/30/jalan-provinsi-rusak-warga-alor-cegat-gubernur-ntt/

Bupati mengatakan, dengan adanya Al-Qur’an Tua yang tertulis dari kulit kayu ini menandakan kehadiran umat muslim di Kabupaten Alor. Bupati berharap persaudaraan yang telah terbangun sejak dulu ini dapat terus terjaga dengan baik di kemudian hari.

“Bahwa dengan Al-Qur’an Tua yang tertulis di atas kulit kayu ini maka ada basudara kakak adik muslim juga di daerah ini. Artinya, bahwa kami orang basudara, kami orang kakak adik, kami orang-orang serumah walaupun berbeda agama. Dan bukan karena agama memisahkan kami tetapi kami hidup orang bersaudara sejak dulu,” tutur Bupati.

Amon Djobo menegaskan, kehadiran agama di Alor memberi penguatan bagi masyarakat untuk membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Keyakinan masing-masing orang tidak dibatasi oleh karena ruang dan waktu. Orang Alor sejak dulu hidup bersaudara, saling membantu dan saling menolong.

Baca Juga: https://tribuanapos.net/2020/07/29/kepala-bmkg-alor-dipolisikan-soal-dugaan-setubuhi-3-gadis-di-bawah-umur/

Bupati mengakui masih banyak kekurangan dalam persiapan acara Festival perdana tahun ini. Karena itu Bupati minta Festival mendatang, Panitia akan menyiapkan sesuai konsep Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat.

Al-Quran Tua yang terbuat dari Kulit Kayu yang kini berada di Desa Alor Besar. (Foto: Kemendikbud.go.id).
Al-Quran Tua yang terbuat dari Kulit Kayu berusia ratusan tahun, kini berada di Desa Alor Besar. (Foto: Kemendikbud.go.id).

Sementara itu Gubernur NTT Viktor Bungtilu Lasikodat meminta Al-Quran Tua dijadikan destinasi pariwisata budaya yang punya dampak ekonomi bagi masyarakat. Gubernur tidak ingin aset budaya yang amat langka tersebut hanya disimpan sebagai warisan budaya dan agama.

“Al-Qur’an tua ini harus disimpan dalam suatu kotak besar, lalu dikunci dan hanya boleh dibuka satu kali satu tahun. Begitupun ikan dugong, boleh dipanggil hanya satu tahun sekali. Dengan itu nilai sakralnya semakin tinggi dan nilai ekonominya juga makin tinggi. Harus eksklusif,” kata Gubernur Viktor.

Ia minta rumah warga di Alor Besar didesain untuk dijadikan penginapan prabayar bagi wisatawan pada acara Festival mendatang. Gubernur yakin pariwisata Al-Quran tua akan memberi manfaat ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat sekitar.

Diketahui, sebuah Al Quran yang terbuat dari bahan kulit kayu berusia ratusan tahun masih tersimpan rapi di rumah salah satu warga di Desa Alor Besar, Kecamatan Alor Barat Laut.

Merilis Kompas.com, Kitab suci agama Islam dari kulit kayu tersebut berisikan ayat-ayat Al Quran lengkap 30 juz (114 surat) dengan pembungkus berupa kotak kayu, tersimpan di rumah Nurdin Gogo (32) yang tak lain adalah turunan dari Sultan Iang Gogo asal Ternate, Maluku.

Rumah miilik Nurdin ini telah dijadikan obyek situs Al Quran tua. Karena memiliki keunikan tersendiri, Al Quran tersebut menjadi daya tarik wisata rohani bagi warga sekitar maupun wisatawan luar NTT, sehingga lokasi penyimpanan kitab suci itu ramai dikunjungi orang.

Baca Juga: https://tribuanapos.net/2020/07/29/polisi-bongkar-sindikat-kasus-prostitusi-di-rumah-dinas-kepala-bmkg-alor/

Nurdin Gogo, menjelaskan, benda suci itu dibawa oleh Sultan Iang Gogo bersama empat orang saudaranya, yakni Ilyas Gogo, Djou Gogo, Boi Gogo dan Kimales Gogo. Mereka membawanya dari Ternate dengan misi penyebaran agama Islam ke Alor.

Pada masa Kesultanan Baabulah, lanjut Nurdin, lima bersaudara berlayar dari Ternate dengan menggunakan perahu layar bernama “Tuma Ninah” yang berarti berhenti atau singgah sebentar.

Kelimanya, kata Nurdin, menyinggahi daratan Alor untuk pertama kalinya di Vetelei, Tanjung Bota, Desa Alila, Kecamatan Alor Barat Laut.

“Karena merasa haus, mereka mencari air di sekitar pantai, tetapi tidak menemukannya. Oleh karena itu, Bapak Iang Gogo menusukan tongkatnya ke pasir, yang kemudian memancarkan air tawar dan bisa memuaskan dahaga mereka. Hingga saat ini, mata air tersebut masih ada dan terletak di Bota, Desa Alila dan diberi nama mata air Benoa,” ujarnya kepada Kompas.com.

Baca Juga: https://tribuanapos.net/2020/08/03/bupati-alor-sebut-jalan-lantoka-peitoko-akan-dibangun/

Setelah itu, mereka berlima meneruskan perjalanan kembali dan singgah di suatu tempat bernama Tang-tang (sekarang Desa Aimoli), yang kemudian bertemu dengan Raja Baololong (Raja Bungabali).

Dalam pertemuan itu mereka saling bertukar cinderamata. Lima Gogo bersaudara memberikan sebuah Nekara atau Al Quran dari kulit kayu, sementara raja Baololong menghadiahkan pisau khitan.

“Diperkirakan usia Al Quran kulit kayu ini lebih dari 500 tahun. Namun bisa usianya lebih dari itu, karena menurut orang-orang dari kerajaan di Ternate, Al Quran ini berusia lebih dari 800 tahun, terhitung sejak dibawa keluar dari Ternate,” jelas Nurdin yang mengaku generasi ke-14 dari Sultan Iang Gogo.

Baca Juga: https://tribuanapos.net/2020/07/30/hut-40-smk-1-kalabahi-usung-thema-baktiku-untuk-generasi-cerdas/

Nurdin mengatakan, Pemerintah Daerah Alor berencana memindahkan Al Quran tersebut ke museum daerah. Namun ia bersama kerabatnya menolak dengan pertimbangan bahwa Al Quran tua tersebut merupakan salah satu peninggalan sejarah yang menjadi bukti penyebaran agama Islam dari para leluhur mereka dari Ternate.

“Kami masih tetap simpan di sini dan untuk kondisinya masih baik. Kami pun khawatir kalau dipindahkan ke museum justru kondisinya akan rusak karena digunakan bahan pengawet,” jelas Nurdin.

Acara Festival Al-Quran Tua itu dihadiri Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dan para pejabat Pemprov, Duta Besar Negara Seychelles dan Duta Besar Negara Republica Democratica Timor Leste. (*dm).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here