
KALABAHI, – Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menggelar Seminar Nasional bertajuk Ekoteologi Maritim pada hari Senin 25 Mei 2026 di Aula Gereja Pola Tribuana Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.
Seminar yang diikuti oleh Peserta dari Pendeta-pendeta se-Tribuana Alor, tokoh agama, pegiat laut, mahasiswa dan pelajar, ini menekankan pentingnya peran gereja dalam menjaga, merawat, dan melestarikan ekosistem laut sebagai tanggung jawab iman.
Ekoteologi Maritim sendiri merupakan sebuah kajian yang menggabungkan nilai-nilai keagamaan dengan pelestarian lingkungan laut.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/05/21/dukung-suksesnya-sidang-mph-pgi-dan-hut-ke-76-di-alor-julie-sutrisno-laiskodat-bantu-dana-rp-100-juta/
Konsep ini memandang bahwa menjaga ekosistem pesisir dan lautan bukan sekadar kewajiban ekologis, melainkan tanggung jawab moral dan spiritual manusia untuk merawat ciptaan Tuhan demi keberlanjutan hidup bersama.
Laut Sebagai Ruang Anugerah, Bukan Ancaman
Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, dalam arahannya menjelaskan bahwa seminar ini sejalan dengan tema besar PGI yang mengangkat kesatuan tubuh Kristus yang mengalami damai sejahtera Allah bersama seluruh ciptaan.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/05/21/sidang-mph-pgi-di-alor-ketum-pgi-dan-rombongan-disambut-hangat-dengan-budaya-khas-dan-simbol-toleransi/
PGI ingin mengajak gereja-gereja melihat seluruh ciptaan secara utuh—tidak hanya manusia dan daratan, tetapi juga lautan.
”Bagaimana laut menjadi ruang anugerah, ruang kasih karunia Allah, ruang yang menjadi sahabat. Selama ini kita kadang-kadang melihat laut sebagai tempat malapetaka atau ancaman, sehingga darat menjadi perlindungan. Nah, kita mau itu diseimbangkan. Kita mengajak umat dan gereja-gereja merayakan laut sebagai sumber anugerah Tuhan,” ujar Pdt. Jacklevyn.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/05/22/sikapi-tantangan-ai-pgi-gelar-diskusi-terbatas-di-alor-dorong-jemaat-cerdas-digital-dan-perkuat-teologi-berjaga-jaga/
Lebih lanjut, ia menyoroti realitas masyarakat Alor yang hidup dekat dengan laut dan menjadikannya sebagai sumber kehidupan serta jembatan penghubung antar-pulau. Pengalaman historis ini harus menjadi kekuatan dalam proses berteologi dan bergereja.
Ke depan, Pdt. Jacklevyn berharap gereja dapat merumuskan strategi dan program konkret, mulai dari level teologis hingga aksi nyata di lapangan.
”Bagaimana pengelolaan masyarakat pesisir dan sumber daya laut diambil dengan penuh kasih. Bukan dengan bom, potas, atau cara lain yang merusak terumbu karang. Pesan ini harus diwujudkan dalam kerja sama lintas pemangku kebijakan, baik dengan pemerintah maupun lintas agama, karena laut adalah rumah bersama,” tegasnya.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/05/22/ketua-timpel-sidang-mph-pgi-ajak-warga-alor-datang-ramaikan-pameran-umkm-dan-pentas-seni-di-gmit-pola-tribuana/
Perspektif Multidisiplin dan Lintas Agama

Untuk membedah konsep Ekoteologi Maritim secara komprehensif, seminar nasional ini menghadirkan tiga narasumber ahli dari berbagai latar belakang:
-
Prof. Dr. Yuliana Salosso, S.Pi., M.P – Katolik / Ketua FKUB Provinsi NTT: “Sustainable Environment bagi Pulau-Pulau Kecil.”
-
Elia Magang, Ph.D – Protestan / GMIT: “Gereja yang Berakar di Laut.”
-
Drs. Moh. Bajher Kamahi, M.Pd – Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Alor: “Ekoteologi Maritim dalam perspektif Islam.”
-
Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty – Ketua Umum PGI: Membedah tema sub tema PGI.
- Moderator Seminar: Wakil Rektor 4 University Tribuana Kalabahi, Dr. Jahved Ferianto Maro.




































