Yapenkris Pingdoling dan PIKI Gandeng Cakrawala NTT Gelar Lokakarya Sekolah GMIT Menulis

Lokakarya Sekolah GMIT Menulis, Selasa 20 Mei 2025 di Aula Pola. (Foto: doc tribuanapos.net). 
Lokakarya Sekolah GMIT Menulis, Selasa 20 Mei 2025 di Aula Pola. (Foto: doc tribuanapos.net). 
Kalabahi – Yayasan Pendidikan Kristen (Yapenkris) Pingdoling dan Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Alor bermitra dengan Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT, menggelar lokakarya menulis bagi ratusan guru di Sekolah GMIT.
Kegiatan bernama ‘Sekolah GMIT Menulis’ tersebut dilakukan pada hari Selasa-Kamis, tanggal 20-22 Mei 2025 di Aula Gereja Pola Tribuana Kalabahi yang dikuti 200 guru dan kepala sekolah GMIT lingkup Yapenkris Pingdoling.
Ketua Yapenkris Pingdoling Dr. Fredrik Abia Kande mengatakan, kegiatan lokakarya Sekolah GMIT Menulis ini merupakan kegiatan promotif yang mengajak para guru dan semua pemangku kepentingan untuk memberi perhatian serius terhadap isu literasi.
“Sebetulnya kegiatan seorang guru itu erat kaitannya dengan menulis. Karena guru itu akan mengajar apa yang dia tulis, dan guru menulis apa yang diajarkan. Ini kami lakukan untuk mendukung program literasi,” kata Fredrik, Selasa 20 Mei 2025 di Aula Pola Tribuana Kalabahi.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2025/05/03/wakil-gubernur-ntt-lepas-peserta-prosesi-pawai-paskah-gamki-alor-tahun-2025/
Fredrik mengatakan, menulis untuk kepentingan pengajaran itu sudah ada kerangkanya, sementara kegiatan menulis yang digagas hari ini lebih dititikberatkan pada pengembangan profesi guru.
“Jadi guru ketika diajak menulis, terutama menulis hal-hal yang berkaitan dengan tugas-tugas guru maupun untuk pengembangan ilmu, maka guru juga akan terus berkembang dari segi kemampuan profesional,” ujarnya.
Kegiatan ini bekerja sama dengan PIKI Alor dan Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT. Yayasan Cakrawala ini adalah salah satu Yayasan yang punya track record baik di bidang literasi, khusus dalam pendampingan para guru dalam menulis di NTT.
Fredrik Kande menerangkan, kegiatan ini sengaja dilakukan selama tiga hari dari tanggal 20-22 Mei untuk benar-benar melatih para guru menulis yang baik dan akan berorientasi pada produk buku ber-ISBN.
“Jadi tiga hari ini kegiatan menulis, lalu nanti ada bimbingan lanjutan secara online, kemudian nanti di akhir Juli di Bulan Pendidikan nanti akan dipanen hasilnya dalam bentuk Buku ber-ISBN yang isinya adalah karya-karya tulis dari para guru,” jelasnya.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2025/05/06/sidang-paripurna-dprd-alor-diwarnai-aksi-lempar-gelas-hancur-berkeping-keping/
Fredrik mengungkapkan bahwa pihaknya mengakui bahwa para guru tentu punya kemampuan dan pengalaman yang bervariasi, karena itu perlu dibimbing oleh fasilitator dari Cakrawala NTT sehingga mereka bisa menulis dengan baik.
Mantan Rektor Untrib itu beri apresiasi terhadap semua pihak yang mendukung kegiatan ini, teristimewa pemerintah daerah, PIKI dan Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT.
“Kita berharap sampai dengan tiga hari pelatihan ini bisa menghasilkan produk buku yang baik,” kata Fredrik optimis gurunya akan menghasilkan karya buku setelah mengikuti pelatihan ini.
Peserta kegiatan ini terdiri dari 200 orang guru, terdiri dari Guru Misionaris 50 orang, dan 150 orang guru dari sekolah GMIT yang ada di Kota Kalabahi yakni guru dari 3 SMP, 2 SMA dan 7 SD GMIT.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2025/05/07/tim-sar-gabungan-kerahkan-kekuatan-sar-cari-korban-arkalaus-takalapeta-di-perairan-alor-timur/
Lokakarya ini dibagi dalam empat kelas; pertama kelas guru misionaris, kelas guru SD, dan kelas guru SMA Kristen 1 ditambah dengan guru SMP Kristen 1, dan kelas guru SMA Kristen 2 ditambah guru SMP Kristen 2 dan 3.
Menurut Fredrik, lokakarya penulisan ini berbasis pada pengalaman mereka mengajar di sekolah; apa situasi yang mereka hadapi di kelas, lalu apa tantangannya.
Kemudian, dengan kerangka konsep yang mereka miliki itu apa konsepnya yang mereka tawarkan sebagai solusi, dan apa pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman itu.
Selain itu, bisa juga dari hasil-hasil riset, misalnya riset penelitian tindakan kelas (PTK) itu juga bisa dipakai sebagai cara untuk mendapatkan pengetahuan baru untuk dapat ditulis dalam bentuk artikel-artikel.
“Harapan kami di Yayasan adalah, menciptakan ekosistem bagi para warga belajar ini bisa termotivasi untuk belajar, termasuk juga dalam mengembangkan diri di bidang menulis,” katanya.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2025/05/10/pantau-tes-p3k-bupati-alor-minta-hindari-praktik-curang/
“Tentu kita tidak akan sampai pada menulis untuk mereka tapi kita akan menciptakan kondisi untuk mereka agar termotivasi untuk menulis,” lanjut Fredrik.
Ia juga menambahkan bahwa tugas Yapenkris hanya bisa menghubungkan mitra-mitra yang bisa menolong para guru untuk dibimbing dan juga dari segi publikasi.
“Jadi saya kira peran kita sebagai badan penyelenggara di situ. Memang kita berharap semua bisa punya karya tulis. Tapi saya kira hal yang paling mutlak adalah berpulang pada masing-masing guru; apakah mereka mau mengikuti peta jalan yang sudah kita letakan secara bersama-sama, sampai pada hasilkan produk,” katanya.
Fredrik memastikan bahwa pihaknya akan terus mendorong guru-guru di seluruh sekolah milik GMIT ini agar bisa memacu diri untuk mengembangkan profesi mereka sebagai guru.
Sebab menurutnya, ke depan Pengurus Yayasan akan memastikan syarat penempatan jabatan kepala sekolah nanti tentu akan mengacu pada aspek syarat mereka yang sudah punya karya tulis ilmiah.
“Di masa depan ini akan menjadi salah satu syarat (duduki jabatan kepala sekolah) yang nanti kita akan tekankan. Karena ketika dia ada di posisi pemimpin pendidikan maka dia harus bisa mengajak teman-temannya untuk melakukan hal menulis yang sama,” jelasnya.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2025/05/13/bupati-alor-panen-raya-padi-141-hektare-dan-serahkan-alsintan-ke-petani-desa-tanglapui/
“Kalau dia tidak punya karya-karya (ilmiah) seperti ini maka tentu tugas-tugas dia sebagai motivator, sebagai pemimpin pendidikan untuk mewujudkan warga belajar yang betul-betul punya kemampuan menulis itu menjadi sesuatu yang tidak mudah,” tambah Fredrik.
Fredrik menekankan kembali bahwa ke depan Yayasannya akan terus menyediakan sarana pelatihan untuk terus mendorong kompetensi guru sebagai syarat menduduki jabatan Kepala Sekolah GMIT.
“Yayasan sudah menyediakan sarana, silahkan para guru memanfaatkan kesempatan pelatihan ini. Dan kami sudah mulai dengan mengangkat guru misionaris untuk menjadi kepala sekolah. Kami sudah mulai pengangkatan kepala sekolah di TK Artha Asih 18 Mali,” katanya.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2025/05/13/buka-turnamen-sepak-bola-nuha-nebo-cup-bupati-alor-minta-junjung-nilai-sportivitas-dan-kerukunan/
Angka Literasi Alor Rendah
200 guru mengikuti lokakarya Sekolah GMIT Menulis, Selasa-Kamis, 20-22 Mei 2025 di Aula Pola Tribuana. (Foto: doc Tribuana pos.net).
200 guru mengikuti lokakarya Sekolah GMIT Menulis, Selasa-Kamis, 20-22 Mei 2025 di Aula Pola Tribuana. (Foto: doc Tribuana pos.net).
Dr. Fredrik Abia Kande juga merespon angka literasi di Kabupaten Alor yang dianggap rendah. Menurutnya, rendahkannya angka literasi ini disebabkan karena belum ada kampanye literasi secara masif dari seluruh pemangku kepentingan dan masih kurangnya sarana pojok baca di masyarakat.
“Literasi kita ini kan dia baru sebatas di ruang-ruang kelas. Misalnya, dengan kebijakan pemerintah 15 menit pertama masuk kelas para siswa diberikan ruang untuk membaca dan memahami teks yang ada,” katanya.
“Nah ini kan hanya satu kiat saja untuk kita mengembangkan budaya literasi. Tapi yang penting itu menciptakan ekosistem; selain di sekolah itu harus ada di keluarga, komunitas-komunitas, atau di lingkungan masyarakat ini kita musti menyediakan sumber-sumber belajar, pojok-pojok baca,” jelasnya.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2025/05/13/bupati-alor-jenguk-mantan-bupati-alor-simeon-th-pally-sakit-di-rsd-kalabahi/
Menurutnya, jika sarana pojok-pojok baca sediakan di ruang-ruang publik termasuk di halaman gereja, disertai kampanye literasi yang masif dilakukan semua pemangku kepentingan ke depan maka ia optimis angka literasi Alor akan berangsur baik.
“Kalau sumbernya belajar itu kita tidak sediakan maka akan sulit untuk kita wujudkan literasi yang baik. Sekarang sumber belajar hanya ada di sekolah. Sementara sumber belajar ini kan harus bersifat semesta: di mana pun, kapan pun. Misalnya di ruang-ruang tunggu, pertemuan-pertemuan publik, di kompleks gereja, di mana orang berdiri sejenak itu sebenarnya bisa disediakan pojok baca,” ujarnya.
“Dan literasi ini juga harus menjadi materi kampanye dari semua pihak. Para pemimpin pendidikan, pemerintah daerah, swasta, kepala sekolah, gereja. Di manapun ketika mereka berpidato atau sambutan-sambutan, itu poin poin ini harus disampaikan. Lalu juga ada upaya untuk memfasilitasi warga belajar termasuk di kompleks gereja. Karena kalau perpustakaan kan terlalu mewah jadi cukup pojok baca. Kalau itu dilakukan maka angka literasi kita akan baik ke depan,” tutup Fredrik.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2025/05/13/bupati-alor-jenguk-mantan-bupati-alor-simeon-th-pally-sakit-di-rsd-kalabahi/
Kepala Dinas Pendidikan Alor Fredi I. Lahal, SH melalui Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kabupaten Alor, Suparman Dj. Thaib, S.Pd mengatakan, kegiatan Sekolah GMIT Menulis ini adalah salah satu upaya yang dilakukan Yapenkris Pingdoling Alor untuk mendukung perubahan angka literasi yang lebih baik di bidang Pendidikan.
Suparman menyebutkan bahwa berdasarkan data evaluasi pendidikan, sementara ini angka literasi kita baru mencapai angka 53, terutama di bidang literasi, numerasi, dan karakter.
Karena itu ia berharap melalui kegiatan ini, para guru dapat meningkatkan kemampuan literasinya dan mengimplementasikan kepada peserta didik selama proses belajar mengajar di kelas.
Suparman menegaskan bahwa Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Alor mendukung penuh, sekaligus mengapresiasi kegiatan Sekolah GMIT Menulis yang diselenggarakan Yayasan Pendidikan Kristen Pingdoling dan PIKI Alor berkerjasama dengan Yayasan Rumah Literasi Cakrawala NTT.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2025/05/13/buka-turnamen-sepak-bola-nuha-nebo-cup-bupati-alor-minta-junjung-nilai-sportivitas-dan-kerukunan/
Direktur Yayasan Rumah Literasi Cakrawala Gusti Rikarno memberikan apresiasi kepada Yapenkris Pingdoling dan PIKI yang telah bekerjasama dengan mereka untuk menggelar lokakarya Sekolah GMIT Menulis di Kalabahi, Alor.
Gusti menjelaskan, para guru yang berpartisipasi dalam kegiatan ini akan masuk ke dalam Program Sekolah Menulis Cakrawala NTT. Kemudian akan ada pendampingan secara berkala hingga tulisan para guru tersebut menghasilkan sebuah karya berupa buku elektronik yang bisa dipublikasikan dan ber-ISBN.
Anderias Saitakela, S.Pd.,M.Pd, salah satu peserta lokakarya, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pengurus Yapenkris Pingdoling dan PIKI yang telah bekerja sama dengan Yayasan Literasi Cakrawala NTT memfasilitasi menghadirkan narasumber membimbing mereka dalam menulis.
“Memang momentum ini sangat menjawab kebutuhan kami di setiap satuan pendidikan di Kabupaten Alor karena data menunjukkan bahwa rapor pendidikan terkait dengan literasi dan numerasi masih rendah sehingga kami sangat terbantu dengan kegiatan pelatihan teknik menulis selama 3 hari ini,” katanya.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2025/05/13/buka-turnamen-sepak-bola-nuha-nebo-cup-bupati-alor-minta-junjung-nilai-sportivitas-dan-kerukunan/
Kepala SD GMIT 01 Kalabahi itu mengaku bangga karena ia dan rekan-rekannya akan dibimbing oleh para narasumber mulai dari bagaimana teknik penentuan judul hingga pada penulisan yang bernuansa ilmiah.
“Kami sangat berantusias dalam menulis karena kami fokus untuk mengangkat permasalahan pembelajaran yang ada di sekitar guru di kelas dan dari sisi manajemen yang dilakukan oleh kepala sekolah,” ujarnya.
Anderias berharap bahwa kegiatan seperti ini merupakan awal yang baik untuk memberikan motivasi bagi para guru untuk mengembangkan kompetensi literasinya sehingga akan terus tranformasikan hal baik ini kepada anak didik.
Kegiatan Sekolah GMIT Menulis ini dibuka oleh Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Suparman Dj. Thaib, didampingi Ketua Yapenkris Pingdoling Kabupaten Alor, Dr. Fredrik Abia Kande.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Yapenkris Pingdoling Alor Mando Kolimon, S.Pd, Pengawas Yapenkris Pingdoling, Sekretaris PIKI Kabupaten Alor Setya Budi Laoepada, SH.,M.Hum, Pendeta GMIT, dan para Kepala Sekolah. (*dm).