Ibadah HUT dan pemandirian GMIT Kefas Kaipera dipimpin Ketua Majelis Sinode GMIT Pdt. Semuel Benyamin Pandie, S.Th. (Foto: doc tribuanapos.net/dm).
Alor Timur, – Sukacita menyelimuti warga Jemaat GMIT Kefas Kaipera, Klasis Alor Timur, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, pada Rabu (29/7/2026). Setelah menempuh perjalanan pelayanan selama 68 tahun, Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) secara resmi memandirikan Jemaat GMIT Kefas Kaipera dari Jemaat Bermata Pasangsona.
Momentum bersejarah tersebut bertepatan dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-68 Jemaat Kefas Kaipera yang berdiri sejak 11 Juli 1958. Selain menjadi tonggak penting dalam sejarah pelayanan gereja, acara itu juga dirangkaikan dengan ibadah syukur dan perhadapan Pdt. Noni Monit Bistolen sebagai pendeta yang akan menggembalakan jemaat mandiri tersebut.
Sejak pagi, halaman gereja dipenuhi ratusan warga jemaat, tokoh masyarakat, para pendeta, serta tamu undangan dari berbagai wilayah di Kabupaten Alor. Kedatangan Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, bersama rombongan disambut dengan tarian adat, pengalungan kain tenun khas Alor, serta prosesi Lego-Lego yang menjadi simbol persaudaraan dan kebersamaan masyarakat Alor.
Suasana penuh sukacita itu menjadi penanda dimulainya babak baru perjalanan pelayanan Jemaat GMIT Kefas Kaipera, yang selama puluhan tahun bertumbuh dalam berbagai keterbatasan hingga akhirnya dinyatakan layak berdiri sebagai jemaat mandiri.
Perjalanan menuju status tersebut bukanlah proses yang singkat. Jemaat yang mengusung nama “Kefas”, yang berarti “Batu Karang”, telah melewati sejarah panjang yang penuh dinamika sejak pertama kali bertumbuh di Kampung Agalamang.
Dalam catatan sejarah gereja, Jemaat Kefas Kaipera pernah mengalami enam kali perpindahan tempat ibadah. Berbagai peristiwa juga sempat menguji keteguhan iman warga jemaat, mulai dari kebakaran gedung gereja darurat hingga bencana gempa bumi yang melanda Kulami I pada 2004 dan Kulami II pada 2015.
Meski menghadapi berbagai tantangan, pelayanan gereja tidak pernah berhenti. Selama hampir tujuh dekade, sebanyak 24 hamba Tuhan, yang terdiri atas pendeta, guru jemaat, dan vikaris, silih berganti melayani serta membimbing pertumbuhan iman warga jemaat hingga akhirnya mencapai tahap pemandirian.
Proses administratif menuju jemaat mandiri dimulai pada 15 April 2026 melalui pemisahan dari Jemaat Bermata Pasangsona. Setelah melalui seluruh tahapan sesuai ketentuan tata gereja GMIT, Jemaat Kefas Kaipera akhirnya dinyatakan memenuhi syarat untuk berdiri sebagai jemaat mandiri.
Kini, Jemaat GMIT Kefas Kaipera memiliki 487 anggota jemaat yang berasal dari 110 kepala keluarga. Pelayanan didukung oleh 23 orang Majelis Jemaat, satu unit gedung kebaktian, serta satu unit rumah pastori yang menjadi pusat pelayanan jemaat.
Peresmian pemandirian ditandai dengan pembukaan selubung papan nama gereja dan penandatanganan prasasti oleh Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie. Prosesi tersebut disambut tepuk tangan dan ungkapan syukur dari seluruh warga jemaat yang telah menantikan momentum tersebut selama bertahun-tahun.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan ibadah syukur, pemotongan tumpeng sebagai ungkapan syukur atas usia pelayanan ke-68 tahun, serta penanaman anakan pohon di halaman gereja oleh Ketua Sinode GMIT bersama para tamu undangan. Penanaman pohon itu menjadi simbol harapan agar jemaat yang baru dimandirikan terus bertumbuh, berakar kuat dalam iman, dan menghasilkan buah pelayanan bagi masyarakat.
Ibadah syukur dipimpin oleh Pdt. Sofia Kause sebagai liturgos, sementara firman Tuhan disampaikan oleh Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie berdasarkan Mazmur 126:1-5.
Dalam khotbahnya, Pdt. Semuel mengajak seluruh warga jemaat untuk membangun kehidupan yang berlandaskan pada kebaikan sejati atau tov. Menurutnya, kebaikan bukanlah tindakan yang dilakukan demi memperoleh pujian ataupun balasan dari manusia, melainkan lahir dari hati yang takut akan Tuhan.
Ia menegaskan bahwa setiap orang memang tidak luput dari kesalahan. Bahkan para murid Yesus pun memiliki kelemahan. Namun, orang yang hidup dalam takut akan Tuhan akan terus berusaha menjaga hati dan hidupnya agar tidak dikuasai oleh kejahatan.
“Keberlangsungan gereja serta pengabdian yang berdampak panjang tidak ditentukan oleh kepintaran, jabatan, atau kekayaan, melainkan oleh rantai kebaikan dan jemaat yang memiliki rasa takut akan Tuhan,” ujar Pdt. Semuel dilansir dari sinodegmit.or.id.
Sementara itu, Ketua Majelis Jemaat sebelumnya, Pdt. Dewi Santi Gerimu, menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya pemandirian Jemaat Kefas Kaipera yang telah menjadi harapan bersama.
Menurutnya, kehadiran Ketua Sinode GMIT beserta jajaran di Alor Timur menunjukkan bahwa perhatian gereja tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan, tetapi juga menjangkau jemaat-jemaat di daerah kepulauan dan pelosok.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, dan warga jemaat yang telah mendukung pelayanan sejak dirinya mulai menggembalakan Jemaat Kefas Kaipera pada 12 Desember 2022 hingga berakhirnya masa pelayanan pada 29 Juli 2026.
Dalam pesan perpisahannya, Pdt. Dewi mengajak seluruh warga jemaat agar tetap menjaga semangat kebersamaan, memperkuat persekutuan, serta terus melayani Tuhan dengan penuh kesetiaan di bawah kepemimpinan pendeta yang baru.
Tongkat estafet pelayanan kemudian diserahkan kepada Pdt. Noni Monit Bistolen melalui prosesi serah terima jabatan yang berlangsung penuh haru.
Dalam sambutannya, Pdt. Noni menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan Majelis Sinode GMIT kepadanya untuk melayani di Jemaat GMIT Kefas Kaipera.
“Terima kasih kepada Majelis Sinode GMIT yang telah menempatkan saya di Klasis Alor Timur. Mari kita saling mendukung dan bergandengan tangan memulai langkah baru ini untuk melayani serta memuliakan Tuhan bersama-sama,” katanya.
Acara pemandirian Jemaat GMIT Kefas Kaipera turut dihadiri Ketua Majelis Klasis Alor Timur, Ketua Majelis Klasis Alor Barat Laut, Ketua Majelis Klasis Pantar Barat, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Alor, Camat Alor Timur, para kepala desa se-Kecamatan Alor Timur, Kapolsek Alor Timur, para pendeta, tokoh masyarakat, serta ratusan warga jemaat.
Pemandirian Jemaat GMIT Kefas Kaipera tidak hanya menjadi penanda perubahan status kelembagaan dalam lingkup GMIT, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan sebuah komunitas iman yang selama puluhan tahun bertumbuh melalui ketekunan, kebersamaan, dan kesetiaan dalam menghadapi berbagai tantangan. Di usia ke-68 tahun, Jemaat Kefas Kaipera kini memasuki babak baru sebagai gereja mandiri dengan harapan terus menjadi terang dan berkat bagi masyarakat Alor Timur.