Aktris cantik Naysila Mirdad ketika berkunjung ke kampung adat Takapala, Sabtu, 1 Agustus 2026. (Foto: doc tribuanapos.net/dm).
ALOR — Langkah-langkah pelan menaiki anak tangga batu menuju Kampung Adat Takpala di Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, membawa siapa pun memasuki ruang waktu yang berbeda.
Di tempat ini, modernitas seakan berhenti di kaki bukit.
Rumah-rumah adat beratap ilalang berdiri berjejer mengikuti kontur lereng. Angin pegunungan berembus lembut, membawa aroma kayu, tanah, dan hutan yang masih alami. Di kejauhan, suara anak-anak bermain berpadu dengan sapaan ramah warga Suku Abui yang sejak ratusan tahun lalu menjaga warisan leluhur mereka.
Sabtu, 1 Agustus 2026, suasana kampung yang biasanya tenang itu berubah sedikit lebih semarak. Seorang tamu datang dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Ia adalah aktris Naysila Mirdad, sosok yang selama ini dikenal melalui berbagai sinetron di layar kaca Indonesia.
Namun, hari itu, Naysila bukan hadir sebagai seorang bintang. Ia datang sebagai seorang pelancong yang ingin belajar.
“Banyak sekali cerita yang saya dapat hari ini,” ucapnya kepada warga usai mendengarkan kisah sejarah Kampung Adat Takpala.
Selama beberapa jam, ia menyimak penuturan para tetua adat mengenai asal-usul masyarakat Abui, filosofi rumah-rumah adat, tarian lego-lego, hingga bagaimana tradisi diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Dalam video yang kemudian beredar luas di media sosial, Naysila menyampaikan kesannya dengan penuh antusias.
“Halo, aku Naysila Mirdad. Sekarang aku lagi ada di Desa Takpala. Habis ngobrol-ngobrol mengenai budaya di sini, mengenai sejarahnya juga. Aduh, banyak banget masukannya. Seru banget menikmati alam di sini. Indah sekali. Buat yang belum pernah datang, harus cobain datang ke sini.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, bagi masyarakat Takpala, pengakuan tersebut menjadi penghargaan atas budaya yang selama ini mereka rawat dengan penuh kesetiaan.
Takpala bukanlah desa wisata yang dipenuhi bangunan modern atau fasilitas mewah.
Di kampung yang hanya dihuni sekitar 40 penduduk dari delapan kepala keluarga itu, kehidupan masih berjalan mengikuti irama adat.
Sebanyak 14 rumah adat (Fala Foka) berdiri kokoh menghadap lembah. Di halaman kampung, anak-anak bermain tanpa gawai di tangan. Para perempuan menenun kain khas Abui, sementara para tetua menjaga cerita-cerita lama agar tidak hilang ditelan zaman.
Wisatawan yang datang bukan hanya mencari pemandangan, melainkan pengalaman.
Mereka ingin mendengar cerita langsung dari masyarakat, menyaksikan tarian tradisional, mengenal rumah adat Luo Mala, hingga memahami bagaimana sebuah komunitas kecil mampu menjaga identitasnya di tengah perubahan dunia.
Sekitar 70 persen pengunjung Takpala merupakan wisatawan domestik, sementara sisanya berasal dari berbagai negara yang ingin mengenal budaya asli Pulau Alor.
Kunjungan Naysila mencapai puncaknya ketika masyarakat adat memakaikan busana tradisional khas Abui.
Di balik selembar kain tenun itu tersimpan makna yang jauh melampaui estetika. Tenun bukan sekadar pakaian, tetapi simbol penghormatan, persaudaraan, dan penerimaan terhadap tamu.
Warga kemudian menghadiahkan beberapa sarung adat Abui sebagai kenang-kenangan.
Suasana berubah hangat ketika terdengar candaan dari masyarakat.
“Kami suka nonton sinetronnya.”
Naysila tertawa kecil.
Saat menerima kain adat tersebut,
Naysila Mirdad yang terkenal lewat banyak sinetron populer, di antaranya adalah Tertawan Hati, Orang Ketiga, Intan dan Liontin itu mengucapkan terima kasih.
Warga pun berseloroh,
“(Kain) Ini punya Naysila ya… jangan dibagi.”
“Tapi ini banyak sekali kainnya.” Jawab mantan kekasih Arfito Hutagalung dan Roestiandi Tsamanov itu.
Tawa warga pun pecah, mencairkan suasana dan memperlihatkan betapa akrabnya pertemuan itu.
Bagi Naysila, Takpala bukan sekadar destinasi wisata.
Ia mengaku kampung adat itu menjadi salah satu tempat paling indah yang pernah dikunjunginya.
Keindahan yang dimaksud bukan hanya panorama alamnya, tetapi juga keramahan masyarakat yang tetap mempertahankan nilai-nilai budaya di tengah perubahan zaman.
Ia pun mengajak masyarakat Indonesia maupun wisatawan mancanegara untuk datang menyaksikan sendiri pesona Takpala.
“Buat yang belum pernah datang, harus cobain datang ke sini.”
Ajakan itu bukan promosi yang dibuat-buat.
Ia lahir dari pengalaman yang benar-benar dirasakan.
Video kunjungan Naysila yang diunggah melalui akun Facebook Shinta Kholi segera menyebar luas dan mendapat ribuan respons dari warganet.
Banyak yang baru mengetahui keberadaan Nasysila Mirdad di Takpala. Sebagian lainnya mengaku ingin berfoto dengannya. Ada juga yang memasukkan kampung adat tersebut ke dalam daftar destinasi impian mereka.
Di tengah derasnya pembangunan sektor pariwisata Indonesia, Takpala menawarkan sesuatu yang tidak bisa dibangun dalam semalam: keaslian.
Di sana, budaya bukan pertunjukan.
Budaya adalah kehidupan sehari-hari.
Rumah adat bukan sekadar objek foto.
Ia adalah rumah yang masih dihuni.
Tenun bukan suvenir.
Ia adalah identitas.
Dan keramahan masyarakat bukan layanan wisata.
Ia tumbuh dari nilai-nilai yang diwariskan leluhur selama berabad-abad.
Kehadiran Naysila Mirdad menjadi jembatan yang memperkenalkan Takpala kepada khalayak yang lebih luas.
Namun sesungguhnya, bintang utama dari kisah ini bukanlah seorang artis.
Melainkan masyarakat adat Takpala yang terus menjaga nyala tradisi agar tetap hidup.
Di lereng perbukitan Alor itu, Indonesia menunjukkan wajahnya yang paling tulus—sederhana, hangat, dan kaya akan budaya.
Takpala mengajarkan bahwa perjalanan terbaik bukanlah tentang seberapa jauh seseorang melangkah.
Melainkan seberapa dalam seseorang memahami tempat yang ia kunjungi.