Suara Adriano Padama dari UNDIP Mengantar Mentan Amran ke Alor, Janji Bantuan 30 Miliar dan Tekan Kemiskinan hingga 5 Persen

Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman (baju putih ujung kiri) dan Adriano Padama (kedua kiri), bersama Wakil Bupati Alor dan Wakil Gubernur NTT berdialog dengan petani di Desa Fanating Kecamatan Teluk Mutiara, Sabtu (8/8). (Foto: Biro Administrasi Seta NTT/Odji).
Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman (baju putih ujung kiri) dan Adriano Padama (kedua kiri), bersama Wakil Bupati Alor dan Wakil Gubernur NTT berdialog dengan petani di Desa Fanating Kecamatan Teluk Mutiara, Sabtu (8/8). (Foto: Biro Administrasi Seta NTT/Odji).
KALABAHI, — Sebuah dialog di kampus Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang, Jawa Tengah, akhirnya membawa Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjejakkan kaki di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.
Dialog itu bermula ketika Adriano Padama, mahasiswa UNDIP asal Alor, menyampaikan kegelisahannya tentang kondisi masyarakat di kampung halamannya.
Salah satu persoalan yang disorot adalah mahalnya harga beras serta berbagai masalah mendasar yang dihadapi masyarakat di daerah kepulauan julukan Nusa Kenari ini.
Aspirasi seorang mahasiswa itu ternyata tidak berhenti di ruang dialog kampus.
Selang dua hari kemudian, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman datang langsung ke Alor untuk melihat kondisi masyarakat dan pertanian dari dekat.
Kunjungan kerja tersebut berlangsung pada Sabtu (8/8), didampingi Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma.
Sekitar pukul 09.00 WITA, rombongan Mentan tiba di Bandara Mali dan disambut Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo, Sekretaris Daerah Alor Melki Beli, serta jajaran Forkopimda.
Pemerintah Kabupaten Alor bahkan memberikan penghormatan khusus dengan menobatkan Andi Amran Sulaiman sebagai Sesepuh Putra Alor.
Dari Bandara Mali, rombongan bergerak menuju Desa Petleng, Kecamatan Alor Tengah Utara, untuk berdialog dengan para petani.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Desa Fanating, Kecamatan Teluk Mutiara. Di tempat tersebut, Mentan berdialog dengan petani sekaligus mengunjungi pusat pembibitan kakao.
Menariknya, Adriano Padama ikut mendampingi Mentan dalam dialog bersama petani di Fanating.
Di hadapan Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo, Forkopimda dan masyarakat, satu per satu persoalan pertanian disampaikan.
Mulai dari kebutuhan bibit, alat dan mesin pertanian, pupuk, obat-obatan hama, hingga persoalan air dan jaringan irigasi.
Para petani tidak sedang berbicara tentang teori.
Mereka berbicara tentang sawah yang membutuhkan air, bibit yang harus tersedia, pupuk yang harus sampai tepat waktu, serta hasil kebun yang diharapkan mampu menghidupi keluarga.
Mentan pun merespons berbagai aspirasi tersebut.
“Butuh apa? Bibit padi? Berapa hektare?” tanya Amran kepada seorang petani yang meminta bantuan bibit padi.
“Satu hektare, Pak,” jawab petani tersebut.
Amran kemudian merespons dengan nada berseloroh.
“Wah, itu bukan kelas Menteri. Kirain puluhan hektare. Nanti ya kita bantu,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disambut antusias masyarakat.
Bagi petani, perhatian pemerintah pusat bukan sekadar angka dalam sebuah program. Bantuan bibit, alat pertanian, pupuk dan air berarti kesempatan untuk meningkatkan produksi sekaligus memperbaiki kehidupan keluarga.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/07/30/pemerintah-dan-sinode-gmit-kompak-dukung-transformasi-pendidikan-kristen-lingkup-yapenkris-pingdoling-alor/
Harga Beras Turun, Masyarakat Berharap Stabil
Salah satu persoalan yang sebelumnya dibawa Adriano Padama ke hadapan Menteri Pertanian adalah mahalnya harga beras di Alor.
Persoalan tersebut kemudian menjadi perhatian serius.
Atas berkat dialog Adriano Padama dengan Mentan Andi Amran Sulaiman, harga beras di Kabupaten Alor kini terpantau mengalami penurunan cukup drastis.
Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp25.000 per kilogram, kini turun berada di sekitar Rp12.500 per kilogram.
Penurunan harga tersebut tentu menjadi kabar melegakan bagi masyarakat.
Namun, masyarakat Alor berharap kondisi itu bukan sekadar penurunan sementara ketika perhatian pemerintah pusat sedang tertuju ke daerah ini.
Mereka berharap harga beras dan kebutuhan pokok lainnya dapat terus stabil di pasar-pasar Alor setelah Mentan kembali ke Jakarta.
Sebab, bagi keluarga masyarakat Alor, harga beras bukan sekadar angka di pasar.
Harga beras menentukan seberapa banyak uang yang tersisa untuk membeli lauk, membayar kebutuhan sekolah anak, membeli obat dan memenuhi kebutuhan keluarga lainnya.
Karena itu, stabilitas pangan menjadi bagian penting dari upaya mengurangi kemiskinan.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/07/31/opini-19-tahun-untrib-merawat-warisan-membenahi-masa-depan/
Bantu Program Pertanian Sekitar Rp30 Miliar
Kunjungan Mentan ke Alor membawa komitmen dukungan program pertanian yang nilainya diperkirakan mencapai sekitar Rp30 miliar.
Dukungan tersebut diarahkan untuk memperkuat sektor pertanian dan perkebunan, terutama komoditas yang menjadi potensi utama Alor seperti padi, jagung, kakao, kelapa dan jambu mete.
Kementerian Pertanian memberikan tambahan 1.000 bibit kelapa, 1.000 bibit jambu mete dan 500 bibit kakao kepada masyarakat.
Di bidang mekanisasi pertanian, Kabupaten Alor telah memperoleh lima unit traktor dan akan mendapatkan tambahan 10 unit traktor roda dua.
Pemerintah juga memberikan 10 unit pompa air dan akan menambah 10 unit lagi.
Namun, Amran menegaskan seluruh bantuan tersebut harus ditopang ketersediaan air.
“Kalau kita mau meningkatkan produksi, air harus tersedia,” tegasnya.
Persoalan air memang menjadi salah satu masalah utama pertanian Alor.
Sejumlah bendungan dan jaringan irigasi mengalami kerusakan akibat bencana Seroja. Pada musim kemarau, keterbatasan sumber air semakin memperberat beban petani.
Petani Desa Fanating dan Desa Petleng meminta pemerintah memperbaiki bendungan serta jaringan irigasi tersier dan sekunder.
Amran berjanji akan membawa persoalan tersebut kepada Menteri Pekerjaan Umum agar mendapatkan penanganan.
Dukungan pembangunan sumur bor dan infrastruktur irigasi juga akan didorong.
Pengembangan padi mendapat perhatian khusus. Mentan menginstruksikan dukungan bibit untuk pengembangan sekitar 1.000 hingga 2.000 hektare.
Sementara pengembangan jagung yang saat ini sekitar 2.500 hektare didorong bertambah sekitar 1.000 hektare.
Pengembangan jambu mete ditargetkan mencapai sekitar 10.000 tanaman, disertai penguatan komoditas kakao, kelapa dan komoditas pangan lainnya.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/08/03/ketika-naysila-mirdad-jatuh-hati-pada-takpala-menemukan-indonesia-yang-masih-menjaga-jiwanya-di-lereng-alor/
Pertanian Didorong Menjadi Jalan Keluar dari Kemiskinan
Di balik potensi pertanian dan perkebunan, Alor masih menghadapi persoalan kemiskinan.
Angka kemiskinan Kabupaten Alor disebut mencapai sekitar 18,29 persen atau 38,68 ribu orang.
Karena itu, Amran ingin sektor pertanian menjadi salah satu instrumen utama untuk mengubah kondisi ekonomi masyarakat.
“Target kita kemiskinan di bawah 10 persen. Kalau bisa sampai 5 persen,” tegas Amran.
Mentan optimistis target tersebut dapat didekati melalui penguatan sektor pertanian dan perkebunan.
Bagi Amran, pertanian harus menjadi jalan keluar yang konkret bagi masyarakat.
Bibit harus tersedia.
Air harus mengalir.
Alat pertanian harus ada.
Produksi harus meningkat.
Dan hasil produksi harus mampu meningkatkan pendapatan petani.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/08/03/68-tahun-menanti-gmit-kefas-kaipera-resmi-berdiri-sebagai-jemaat-mandiri-di-alor-timur/
Kita Ubah Nasib Masyarakat Lewat Pertanian
Mentan Andi Amran Sulaiman berdialog dengan Petani Desa Fanating Kecamatan Teluk Mutiara, Sabtu (8/8). (Foto: Biro Administrasi Seta NTT/Odji).
Mentan Andi Amran Sulaiman didampingi Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma dan Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo berdialog dengan Petani Desa Fanating Kecamatan Teluk Mutiara, Sabtu (8/8). (Foto: Biro Administrasi Seta NTT/Odji).
Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma menyampaikan apresiasi atas perhatian Menteri Pertanian terhadap masyarakat Alor.
“Atas nama Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten Alor dan seluruh masyarakat Alor, kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Menteri Pertanian atas perhatian dan dukungannya,” ujar Johni.
Menurutnya, kehadiran Menteri Pertanian di Alor merupakan bentuk nyata perhatian pemerintah pusat terhadap daerah kepulauan dan masyarakat petani.
Pemerintah Provinsi NTT, kata Johni, siap mengawal berbagai dukungan tersebut agar benar-benar berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Mari kita ubah nasib saudara-saudara kita di Alor melalui pertanian,” ujarnya.
Kalimat itu menjadi salah satu pesan utama dari kunjungan Mentan.
Sebab, bagi masyarakat Alor, pertanian bukan sekadar sektor ekonomi.
Pertanian adalah sumber kehidupan.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/08/07/mahasiswa-undip-adriano-padama-curhat-ke-mentan-ungkap-harga-beras-di-alor-bisa-tembus-rp30-000-per-kilogram/
Dari Petani hingga Keluarga Kurang Mampu
Setelah mengunjungi Petleng dan Fanating, rangkaian kunjungan Mentan dilanjutkan ke Desa Lembur Barat.
Di sana, Amran kembali berdialog dengan masyarakat sekaligus menyerahkan bantuan beras kepada keluarga kurang mampu di Kecamatan Alor Tengah Utara.
Rangkaian agenda tersebut memperlihatkan bagaimana persoalan pangan, pertanian dan kemiskinan saling berkaitan.
Harga pangan harus terjangkau.
Produksi harus meningkat.
Petani harus mendapat dukungan.
Dan keluarga miskin harus mendapat perlindungan.
Dari Alor, pesan Mentan sangat jelas: potensi pertanian harus diubah menjadi kesejahteraan.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/08/07/dirut-perum-bulog-tiba-di-alor-bersama-adriano-padama-distribusikan-beras-murah-rp12-500-per-kilogram-hingga-desa-desa/
Wakil Bupati Alor Janjikan Beasiswa untuk Adriano
Cerita tentang Adriano Padama ternyata tidak berhenti pada dialognya dengan Menteri Pertanian.
Di tengah rangkaian kunjungan Mentan ke Alor, muncul pula bentuk perhatian terhadap keberlanjutan pendidikan mahasiswa UNDIP tersebut.
Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo menyatakan akan membantu biaya pendidikan Adriano melalui program beasiswa daerah.
Janji tersebut disampaikan Rocky ketika mendampingi Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma mengunjungi rumah Adriano Padama di Kompleks Jembatan Hitam, Alor.
Di hadapan keluarga Adriano, Rocky menyampaikan komitmennya untuk membantu keberlanjutan pendidikan mahasiswa tersebut.
“Nanti kami bantu beasiswa kepada anak kita Adriano Padama,” kata Rocky.
Pernyataan tersebut langsung disambut tepuk tangan keluarga.
Bagi keluarga, dukungan itu bukan sekadar bantuan biaya pendidikan.
Lebih dari itu, beasiswa tersebut menjadi bentuk penghargaan atas keberanian seorang anak daerah membawa persoalan masyarakat Alor hingga ke tingkat pemerintah pusat.
Rocky juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Adriano karena telah berani berdialog dengan Mentan Andi Amran Sulaiman.
Menurutnya, apa yang dilakukan Adriano menjadi salah satu jalan yang turut membuka perhatian pemerintah pusat terhadap Alor.
Ia berharap Adriano dapat menyelesaikan studinya dengan baik di UNDIP dan kelak kembali ke tanah kelahirannya untuk membangun Alor.
“Anak-anak Alor yang menempuh pendidikan di luar daerah harus kembali membawa ilmu dan pengalaman untuk membangun daerah,” demikian pesan yang tersirat dari dukungan tersebut.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/08/07/mentan-amran-bangga-pada-kritik-mahasiswa-undip-adriano-padama-soal-harga-beras-mahal-di-pulau-alor/
10 Adik Adriano Juga Mendapat Kursus Komputer Gratis
Mentan Andi Amran Sulaiman memantau pusat pembibitan Kakao di Desa Fanating Kecamatan Teluk Mutiara, Aloe, Sabtu (8/8). (Foto: Biro Administrasi Seta NTT/Odji).
Mentan Andi Amran Sulaiman, Wagub Johni Asadoma, Anggota DPRD NTT Soleman Boli Gorangmau, Wabup Alor Rocky Winaryo, memantau pusat pembibitan Kakao di Desa Fanating Kecamatan Teluk Mutiara, Alor, Sabtu (8/8). (Foto: Biro Administrasi Seta NTT/Odji).
Perhatian terhadap keluarga Adriano juga datang dari Anggota DPRD Provinsi NTT Soleman Boli Gorangmau.
Ia membantu 10 adik Adriano Padama yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) melalui bantuan kursus komputer gratis di BMW Komputer.
Biaya kursus BMW per orang sebesar Rp1.500.000 itu ditanggung Boli Gorangmau. Kursus akan dimulai pada bulan September 2026.
Bantuan tersebut menjadi pesan bahwa perjuangan seorang anak muda untuk menyuarakan persoalan daerah tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri.
Ada keluarga yang ikut mendapat perhatian.
Ada adik-adik yang memperoleh dukungan untuk melanjutkan pendidikan.
Dan ada harapan agar keluarga tersebut terus memiliki kesempatan untuk berkembang melalui pendidikan.
Bagi Boli, pendidikan dan pembangunan daerah seakan menjadi dua sisi dari mata uang yang sama.
Anak-anak muda diberi kesempatan untuk belajar setinggi mungkin, sementara di saat yang sama mereka diharapkan membawa ilmu dan pengalaman tersebut kembali untuk membangun tanah kelahirannya.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/08/07/kampung-mahasiswa-undip-adriano-padama-masih-tanpa-listrik-saatnya-menteri-esdm-dan-direktur-utama-pln-datang-ke-pureman/
Dari Semarang, Suara Anak Alor Sampai ke Pemerintah Pusat
Ada satu benang merah yang membuat kunjungan Mentan ke Alor terasa berbeda.
Benang merah itu bernama Adriano Padama.
Mahasiswa UNDIP asal Alor tersebut sebelumnya membawa persoalan kampung halamannya ke hadapan Menteri Pertanian ketika Amran menyampaikan pidato di kampus UNDIP, Semarang.
Ia berbicara tentang harga beras.
Tentang kebutuhan masyarakat.
Tentang kondisi pertanian.
Dan tentang pentingnya perhatian pemerintah terhadap daerah kepulauan seperti Alor.
Aspirasi tersebut kemudian mendapat perhatian Mentan.
Dua hari berselang, Amran datang sendiri ke Alor.
Ia tidak hanya menerima laporan dari balik meja.
Ia datang ke desa.
Ia berdiri di tengah petani.
Ia mendengar langsung keluhan tentang bibit, pupuk, alat pertanian dan air.
Bahkan Adriano kembali hadir mendampingi Amran dalam dialog bersama petani desa.
Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma menyebut ada hubungan kuat antara suara mahasiswa tersebut dan kunjungan Mentan ke Alor.
“Adriano sudah menuntun Bapak Menteri untuk datang ke Alor,” ujar Johni.
Menurutnya, apa yang dilakukan Adriano menunjukkan bahwa anak-anak NTT yang sedang menempuh pendidikan di luar daerah dapat menjadi jembatan untuk membawa persoalan daerah ke tingkat nasional.
“Ini adalah bukti bahwa suara anak-anak Alor, suara anak-anak NTT, bisa didengar sampai ke tingkat pemerintah pusat,” ungkapnya.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/08/08/ayah-adriano-padama-saya-kaget-sedih-kagum-melihat-anak-saya-bicara-dengan-mentan/
Mentan Tinggalkan Alor Menuju Makassar
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian agenda kunjungan kerja di Kabupaten Alor, sekitar pukul 14.00 WITA, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama rombongan meninggalkan Alor.
Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Makassar, Sulawesi Selatan, menggunakan pesawat jet pribadi.
Kepergian Mentan menandai berakhirnya kunjungan kerja singkat, tetapi meninggalkan sejumlah janji besar bagi masyarakat Alor.
Program pertanian sekitar Rp30 miliar menunggu tindak lanjut.
Bibit harus datang.
Traktor harus bekerja.
Pompa air harus mengalirkan air ke lahan.
Irigasi harus diperbaiki.
Produksi pertanian harus meningkat.
Harga beras harus tetap terjangkau.
Dan target penurunan kemiskinan harus diterjemahkan menjadi program nyata yang dirasakan masyarakat.
Sementara bagi Adriano, kisahnya memasuki babak baru.
Ia mendapat janji beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Alor.
Sepuluh adiknya mendapat bantuan pendidikan dari anggota DPRD Provinsi NTT.
Dan kini, ia memikul harapan yang lebih besar: menyelesaikan pendidikan di UNDIP dan suatu hari kembali membangun Alor.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan kunjungan seorang menteri bukan hanya seberapa meriah ia disambut ketika datang.
Ukuran keberhasilannya adalah apa yang terjadi setelah ia pergi.
Apakah petani semakin mudah menanam?
Apakah air semakin mudah didapat?
Apakah produksi meningkat?
Apakah harga pangan tetap terjangkau?
Apakah anak-anak petani mendapat masa depan yang lebih baik?
Dan yang paling penting, apakah keluarga-keluarga miskin di Alor perlahan dapat keluar dari jerat kemiskinan?
Dari sebuah dialog seorang mahasiswa di UNDIP hingga langkah seorang menteri di tanah Alor, sebuah cerita telah dimulai.
Suara sudah didengar. Janji sudah disampaikan. Kini masyarakat menunggu bukti.
Dan mungkin, di situlah arti paling penting dari perjalanan Adriano Padama: seorang anak muda berbicara tentang kampung halamannya, dan suaranya akhirnya membawa seorang menteri datang untuk melihat sendiri wajah Alor.
Editor: Demas Mautuka