Ir. Ansgerius Takalapeta - Bupati Alor Periode 1999–2004 dan 2004–2009).
Kalabahi — Dalam perspektif filsafat waktu, usia biologis hanyalah penanda kronologis, sementara makna hidup diukur dari jejak nilai yang ditinggalkan. Pada titik inilah perayaan ulang tahun ke-70 Ir. Ansgerius Takalapeta menemukan relevansinya. Bukan dalam kemegahan seremoni, melainkan melalui peluncuran buku Pohon Emas Itu Telah Berbuah. Sebuah karya reflektif yang merekam perjalanan pengabdian, pemikiran, dan warisan kepemimpinan seorang putra Alor bagi tanah kelahirannya.
Peluncuran buku tersebut berlangsung khidmat di Aula Nusantara Lantai III Kantor Bupati Alor, Rabu (17/12), difasilitasi Dewan Pengurus Cabang Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (DPC PIKI) Kabupaten Alor. Buku ini disunting oleh Dr. Fredrik Abia Kande, M.Pd dan Imanuel Yosafat Hadi Manapa, M.Pd, sebagai upaya akademik merawat memori kolektif tentang kepemimpinan lokal yang berakar pada konteks sosial-budaya dan visi pembangunan jangka panjang.
Ketua PIKI Alor, Dr. Fredrik Abia Kande, menegaskan bahwa buku penghormatan ini tidak dimaksudkan sekadar sebagai penanda usia, melainkan sebagai ikhtiar intelektual untuk mengkristalkan pengalaman hidup seorang tokoh daerah agar dapat ditransmisikan sebagai pengetahuan sosial bagi generasi berikutnya.
Menurutnya, penghormatan ini memiliki dimensi etis dan historis, sebab pengabdian Ans Takalapeta tidak berhenti pada jabatan formal. Resonansi kebijakan dan gagasannya masih dapat ditelusuri dalam denyut pembangunan daerah serta berbagai penugasan strategis di tingkat provinsi.
“Seluruh tulisan dalam buku ini merupakan ungkapan syukur atas anugerah Tuhan yang menuntun Ir. Ansgerius Takalapeta mencapai usia 70 tahun pada 13 Desember 2024,” tambahnya.
Selain diluncurkan, buku tersebut juga dibedah secara kritis dari berbagai perspektif keilmuan. Kepala Bapelitbang Alor, Melkisedek Beli, S.Sos., M.Si, mengulasnya dari sudut pandang tata kelola pemerintahan; Dr. Rahmad Nasir, S.Pd., M.Pd meninjau aspek pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia; praktisi ekonomi Denny Lalitan mengkaji dimensi ekonomi dan kewirausahaan; sementara Ketua Majelis Klasis GMIT Teluk Kabola, Pdt. Oktoviana Appah, S.Th, menelaah kontribusi sosial-keagamaan. Diskusi dipandu Sekretaris PIKI Alor, Setiya Budi Laoepada, S.H., M.Hum.
Pembedahan buku ini, lanjut Fredrik, bertujuan mendiseminasikan gagasan dan kiprah tokoh daerah kepada generasi muda, merawat tradisi penghormatan kepada sesepuh, menjaga kesinambungan narasi sejarah lokal, sekaligus menyediakan referensi konseptual bagi perumusan kebijakan pembangunan Alor di masa depan.
Sementara itu, Ir. Ansgerius Takalapeta menegaskan bahwa buku tersebut sepenuhnya dipersembahkan bagi masyarakat Alor. Ia berharap karya ini dapat menjadi ruang refleksi kritis sekaligus sumber pembelajaran bagi proses pembangunan dan pemberdayaan masyarakat ke depan.
“Pemimpin boleh silih berganti, tetapi kesetiaan untuk daerah tidak boleh berhenti,” ujarnya singkat namun bernas.
Pada usia 70 tahun, Ans Takalapeta tidak sekadar menandai panjangnya perjalanan hidup, melainkan mensyukuri pohon pengabdian yang telah berbuah. Buah-buah itu kini menjadi milik bersama masyarakat Alor—hari ini, dan dalam horizon masa depan. (*dm).