Mahasiswa Undip Adriano Padama Curhat ke Mentan, Ungkap Harga Beras di Alor Bisa Tembus Rp30.000 per Kilogram

Mahasiswa Undip Adriano Padama Curhat ke Mentan Andi Amran, Kamis (6/8) di Kampus Undip Semarang. (Foto: kompas.com). 
Mahasiswa Undip Adriano Padama Curhat ke Mentan Andi Amran, Kamis (6/8) di Kampus Undip Semarang. (Foto: kompas.com). 
SEMARANG, — Tangis haru mewarnai dialog antara mahasiswa baru Adriano Padama dengan Andi Amran Sulaiman saat kegiatan Penerimaan 5.155 Mahasiswa Baru Universitas Diponegoro Tahun Akademik 2026/2027, Kamis 6 Agustus 2026.
Di hadapan ribuan mahasiswa dan pimpinan kampus, Adriano yang berasal dari Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, menyampaikan persoalan mendasar yang selama bertahun-tahun dihadapi masyarakat di kampung halamannya, yakni mahalnya harga beras akibat keterbatasan produksi dan sulitnya distribusi antarpulau.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/07/28/gmit-perkuat-kompetensi-guru-dan-kepala-sekolah-yapenkris-pingdoling-siapkan-sentralisasi-gaji-pada-2028/
Dalam kesempatan itu, Adriano memperkenalkan diri sebagai mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro. Ia menjelaskan bahwa Kabupaten Alor merupakan daerah kepulauan yang sangat bergantung pada transportasi laut sebagai jalur utama distribusi logistik.
“Daerah kami hanya mengandalkan kapal untuk distribusi. Ketika musim hujan datang, gelombang laut menjadi sangat tinggi sehingga pengiriman beras sering terhambat,” kata Adriano.
Ia mengungkapkan, kebutuhan beras masyarakat Kabupaten Alor mencapai sekitar 24.000 hingga 27.000 ton per tahun. Namun kemampuan produksi daerah hanya mampu memenuhi sekitar 10 persen dari total kebutuhan tersebut.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/07/30/pemerintah-dan-sinode-gmit-kompak-dukung-transformasi-pendidikan-kristen-lingkup-yapenkris-pingdoling-alor/
Kondisi itu menyebabkan harga beras di Alor jauh lebih tinggi dibandingkan banyak daerah lain di Indonesia.
“Kalau di wilayah kota sekitar Rp13.000 sampai Rp15.000 per kilogram. Tetapi di pedalaman bisa Rp17.000 sampai Rp18.000 per kilogram. Saat terjadi krisis distribusi karena cuaca buruk, harganya bisa mencapai Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram,” ujarnya.
Adriano juga menceritakan dampak sosial dari tingginya harga beras. Menurut dia, tidak sedikit keluarga yang terpaksa mengganti konsumsi beras dengan umbi-umbian karena keterbatasan ekonomi.
Pernyataan itu membuat suasana ruangan menjadi hening. Adriano mengaku khawatir kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas tumbuh kembang anak-anak di daerahnya apabila persoalan pangan tidak segera diatasi.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/07/31/opini-19-tahun-untrib-merawat-warisan-membenahi-masa-depan/
Mendengar curahan hati tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman langsung meminta jajarannya mencatat persoalan yang terjadi di Kabupaten Alor.
Ia kemudian menghubungi Direktur Utama Perum Bulog Letjen TNI (Purn.) Ahmad Rizal Ramdhani di hadapan para peserta kegiatan.
“Kalau belum ada gudang Bulog di Kabupaten Alor, bangun gudang di sana. Hari ini juga kirim beras ke Alor. Saya minta harga beras sesuai arahan Bapak Presiden, Rp12.500 per kilogram,” tegas Amran.
Tak hanya memerintahkan pengiriman beras, Amran juga meminta Adriano ikut memantau realisasi kebijakan tersebut.
“Nanti kamu monitor. Ambil nomor saya, laporkan lagi kepada saya. Kita harus selesaikan persoalan saudara-saudara kita di Alor yang jumlah penduduknya sekitar 300 ribu jiwa. Mereka harus mendapatkan beras dengan harga yang terjangkau,” ujarnya.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/08/03/ketika-naysila-mirdad-jatuh-hati-pada-takpala-menemukan-indonesia-yang-masih-menjaga-jiwanya-di-lereng-alor/
Bahkan, di akhir dialog, Amran juga menyampaikan kepeduliannya terhadap kehidupan Adriano sebagai mahasiswa perantau dengan membantu biaya tempat tinggalnya selama menempuh pendidikan.
Respons cepat Menteri Pertanian itu langsung disambut tepuk tangan meriah dari ribuan mahasiswa yang hadir.
Momen tersebut menjadi perhatian publik karena memperlihatkan bagaimana persoalan distribusi pangan di wilayah kepulauan dapat disampaikan langsung oleh seorang mahasiswa kepada pemerintah pusat.
Bagi masyarakat Kabupaten Alor, harapan kini tertuju pada tindak lanjut pemerintah dalam memperkuat rantai distribusi pangan, termasuk pembangunan gudang Bulog dan peningkatan pasokan beras agar harga kebutuhan pokok dapat lebih terjangkau hingga ke wilayah-wilayah pedalaman.
Editor: Demas Mautuka