KALABAHI, — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 3,0 mengguncang wilayah Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, Senin 17 Agustus 2026 sekitar pukul 11.20 WIB atau 12.20 WITA.
Berdasarkan informasi awal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut berlokasi pada koordinat 8,31 derajat Lintang Selatan dan 124,42 derajat Bujur Timur.
Pusat gempa berada sekitar 14 kilometer sebelah barat Alor, dengan kedalaman 6 kilometer.
Gempa yang terjadi pada siang hari tersebut sempat membuat warga panik. Getaran gempa dirasakan oleh sejumlah warga sehingga sebagian di antaranya spontan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Warga memilih berada di luar rumah dan berkumpul di tempat yang dianggap lebih aman karena khawatir terjadi gempa susulan. Kepanikan terutama terjadi sesaat setelah getaran dirasakan.
Meski kekuatan gempa tergolong kecil, lokasi pusat gempa yang relatif dekat dan kedalamannya yang dangkal membuat getarannya dapat dirasakan masyarakat di sekitar wilayah terdampak.
Hingga berita ini ditulis, belum ada laporan mengenai korban jiwa, korban luka-luka maupun kerusakan infrastruktur akibat gempa tersebut.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Alor, Obeth Bolang, mengatakan pihaknya masih melakukan pemantauan terhadap kondisi di lapangan.
Menurut Obeth, BPBD Alor terus berkoordinasi dengan berbagai pihak dan memantau perkembangan situasi selama 24 jam untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gempa susulan maupun dampak lain yang ditimbulkan.
“Belum ada korban jiwa, korban luka-luka maupun kerusakan infrastruktur yang dilaporkan. Kami masih terus memantau kondisi di lapangan dalam waktu 24 jam,” kata Obeth.
Ia menegaskan BPBD Alor tetap menyiagakan personel dan posko untuk menghadapi kemungkinan terjadinya bencana.
“Kami tetap siaga penuh 24 jam di Posko BPBD Alor untuk menghadapi bencana ini,” ujarnya.
Obeth mengimbau masyarakat agar tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan. Warga juga diminta tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya dan terus mengikuti perkembangan resmi dari BMKG maupun BPBD Kabupaten Alor.
“Masyarakat tetap tenang dan waspada. Pantau terus informasi resmi dari BMKG dan BPBD Alor,” katanya.
Menurut Obeth, kewaspadaan penting karena wilayah Alor berada di kawasan yang memiliki aktivitas kegempaan cukup tinggi.
“Masyarakat tetap siaga penuh. Karena kita ada di jalur patahan gempa dengan Flores,” ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat segera melaporkan kepada pemerintah apabila menemukan dampak akibat gempa, termasuk kerusakan bangunan, fasilitas umum maupun adanya warga yang membutuhkan pertolongan.
“Kalau ada bencana, tolong segera melaporkan kepada pemerintah melalui BPBD Alor,” kata Obeth.
Obeth juga menyampaikan duka mendalam kepada masyarakat yang terdampak bencana gempa bumi di Flores. Ia mengajak masyarakat Alor untuk turut mendoakan warga yang menjadi korban maupun mereka yang terdampak bencana tersebut.
“Kami menyampaikan duka mendalam untuk masyarakat yang terdampak bencana gempa di Flores,” katanya.
BMKG dalam informasi awalnya menyebutkan gempa terjadi pada 17 Agustus 2026 pukul 11.20.32 WIB, dengan magnitudo 3,0, koordinat 8,31 LS dan 124,42 BT, sekitar 14 kilometer barat Alor, NTT, dengan kedalaman 6 kilometer.
BMKG juga mengingatkan bahwa informasi tersebut mengutamakan kecepatan sehingga hasil pengolahan data masih belum stabil dan dapat berubah seiring dengan kelengkapan data.
Masyarakat pun diimbau untuk tetap tenang, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta mengikuti informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah.
Sementara itu, BPBD Alor memastikan pemantauan terus dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat dampak gempa di wilayah permukiman maupun fasilitas umum.
Hingga pemantauan sementara dilakukan, belum terdapat laporan korban jiwa, korban luka-luka maupun kerusakan infrastruktur akibat gempa Magnitudo 3,0 tersebut.