
Kalabahi,— Sikapi pesatnya perkembangan teknologi global, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) bergerak cepat mengedukasi warganya agar tidak tergilas oleh arus modernisasi.
Di sela-sela agenda Sidang Majelis Pekerja Harian (MPH) PGI dan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 PGI yang berlangsung di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, 21–26 Mei 2026, PGI menggelar sebuah diskusi terbatas yang krusial.
Diskusi yang mengusung tema: “Tantangan Dunia Digital dan AI bagi Gereja dan Secure Platform bagi Gereja-Gereja Indonesia” ini dilaksanakan pada Jumat, 22 Mei 2026, bertempat di Aula Gereja Pola Tribuana Kalabahi, Alor.
Acara ini dihadiri oleh 43 peserta yang terdiri dari MPH PGI, dan utusan pimpinan Gereja-gereja Anggota PGI, para pendeta dari Klasis-Klasis GMIT se-Tribuana Alor dan gereja denominasi.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/03/15/gmit-tribuana-alor-jadi-tuan-dan-nyonya-rumah-sidang-pgi-tahun-2026/
Hadir sebagai Narasumber utama, Gildas Deograt Lumy dari Komisi Pengembangan Digital dan Artificial Intelligence (AI), memaparkan materi yang membuka mata para pemimpin gereja yang hadir.
Dalam paparannya, Gildas mengupas tuntas bagaimana kecerdasan buatan (AI) membawa disrupsi radikal bagi masa depan generasi Gereja dan bangsa.
Menurutnya ancaman nyata AI bagi Gereja adalah, risiko distorsi iman akibat konsumsi informasi keagamaan yang dipersonalisasi oleh algoritma tanpa penyaringan teologis yang benar, ancaman kecanduan digital, hingga potensi terkikisnya esensi persekutuan fisik (fellowship) di dalam gereja.
Sementara itu ancaman AI bagi bangsa dan negara dalah Ancaman penyebaran hoaks berbasis deepfake yang kian canggih, polarisasi sosial, serangan siber pada data personal warga, serta potensi hilangnya lapangan kerja massal yang dapat memicu ketimpangan ekonomi baru.
Melalui diskusi ini, jemaat Tuhan dan masyarakat luas diberikan peringatan keras untuk tidak sekadar menjadi konsumen teknologi yang pasif. Jemaat dituntut untuk meningkatkan kecakapan digital (literasi digital) dan bersikap cerdas serta kritis dalam mengadopsi teknologi AI, agar kemajuan ini tidak merusak tatanan moral dan spiritual.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/03/16/timpel-sidang-mph-pgi-diperhadapkan-ketua-sinode-gmit-alor-dipilih-karena-keberagaman-yang-unik/
Gildas meminta seluruh Gereja-gereja Tuhan untuk berjaga-jaga di era digital. Ia mengajak gereja untuk menyikapi fenomena ini agar memberikan penguatan teologi yang relevan. Gereja diingatkan kembali pada amanat Alkitab untuk senantiasa “Berjaga-jaga” (1 Petrus 5:8).
Teologi berjaga-jaga di era AI bukan berarti menjauhi teknologi secara ekstrem, melainkan membangun benteng spiritualitas yang kokoh, memiliki daya kritis (discernment) untuk menguji setiap roh dan informasi di dunia maya, serta memastikan bahwa teknologi tetap diposisikan sebagai alat pelayanan, bukan pengganti Tuhan atau esensi kemanusiaan itu sendiri.







































