
KALABAHI, – Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, menegaskan bahwa potret Indonesia yang sesungguhnya tidak boleh hanya dilihat dari kacamata Jakarta atau pusat kekuasaan.
Hal ini disampaikannya usai melakukan ziarah rohani yang mendalam di Masjid Ishak dan Gereja GMIT Ismail, Kampung Ilawe, Desa Alila Timur, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, Minggu 24 Mei 2026.
“Indonesia tidak boleh dipotret hanya dari Jakarta. Indonesia harus dilihat dari jendela Alor juga. Jakarta bukan barometer untuk segala sesuatu; Alor harus menjadi barometer,” ujar Pdt. Jacklevyn dengan penuh semangat saat diwawancarai wartawan Tribuanapos.net, Demas Mautuka, Senin 25 Mei di Gereja Pola.
Bagi Pdt. Jacklevyn, istilah ‘pusat dan pinggiran’ sudah tidak relevan lagi. Ia menegaskan bahwa Alor dan NTT adalah teras atau beranda depan Indonesia yang langsung berhadapan dengan batas teritorial internasional.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/05/22/sikapi-tantangan-ai-pgi-gelar-diskusi-terbatas-di-alor-dorong-jemaat-cerdas-digital-dan-perkuat-teologi-berjaga-jaga/
Filosofi Unik Masjid Ishak dan Gereja Ismail
Ziarah rohani ini memberikan kesan yang luar biasa bagi Majelis Pekerja Harian (MPH) PGI. Di Kampung Ilawe, mereka menemukan simbol kerukunan yang sangat langka dan mendalam: sebuah masjid yang dinamakan Masjid Ishak dan gereja yang dinamakan Gereja Ismail. Nama-nama ini bukan sekadar penanda bangunan, melainkan refleksi historis dari ikatan persaudaraan yang lahir dari satu rahim budaya.
Pdt. Jacklevyn mengisahkan kembali sejarah leluhur kerukunan di Ilawe yang dikisahkan tokoh Ilawe Alberth N. Ouwpoly saat menerima kunjungan mereka sebelumnya, Minggu (24/5).
Dahulu, warga di kampung tua Maibang, Holoang dan Beperlamanta Kecamatan Kabola, turun dan mulai memeluk agama secara bertahap. Kelompok pertama yang turun memeluk agama Islam, sehingga masjid yang dibangun dinamakan Masjid Ishak (merujuk pada tokoh Isak yang pertama turun).
Kemudian, beberapa kepala keluarga menyusul turun dan memeluk agama Kristen. Karena kerinduan mereka akan rumah ibadah dikabulkan, gereja yang dibangun di sana dinamakan Gereja Ismail, yang berarti ‘Allah mengabulkan.’
“Ini bukan sekadar nama, tapi soal relasi di belakangnya. Leluhur kita sudah menaruh dasar yang sungguh sangat kokoh. Kita boleh memilih agama atau kehidupan sosial yang berbeda, tetapi jangan pernah lupa kita berasal dari satu kerahiman, satu ruang budaya yang diikat sumpah dan doa oleh leluhur kita,” jelasnya.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/05/22/ketua-timpel-sidang-mph-pgi-ajak-warga-alor-datang-ramaikan-pameran-umkm-dan-pentas-seni-di-gmit-pola-tribuana/
Kesaksian Indah dari Para Pemimpin Umat di Ilawe
Kehangatan relasi ini dibenarkan langsung oleh Imam Masjid Ishak, Ahmad Dukabain. Ia mengaku sangat bangga karena masjid mereka dikunjungi langsung oleh Ketua Umum PGI bersama 43 pengurus MPH PGI dari berbagai denominasi gereja anggota PGI di tanah air.
Ahmad mengisahkan bahwa selama ini, jemaat Muslim dan Kristen di Ilawe hidup dalam satu ikatan persaudaraan yang rukun tanpa pernah diterpa konflik agama.
“Selama ini tidak ada masalah. Kami hidup rukun. Kalau ada kegiatan rohani umat Islam di sini dan di Gereja Ismail, kami selalu bersama-sama. Bahkan soal urusan kawin juga masing-masing pasangan diberi kebebasan memilih agama yang dianutnya. Pokoknya tidak ada masalah bagi kami di sini,” ungkap Ahmad dengan penuh rasa syukur.
Hal senada disampaikan oleh Ketua Majelis Jemaat Bermata Jemaat GMIT Ismail Ilawe, Pdt. Dina Rode Makalen. Ia memberikan penegasan serupa bahwa jemaatnya senantiasa hidup berdampingan secara harmonis dan damai dengan jamaah Masjid Ishak.
Apresiasi setinggi-tingginya juga datang dari tokoh masyarakat Desa Alila Timur, Alberth N. Ouwpoly. Sembari mengisahkan sejarah berdirinya kedua rumah ibadah tersebut di Kampung Ilawe, Alberth menyebut kunjungan ini sebagai momen yang sangat bersejarah.
“Suatu kebanggaan besar kami bisa dikunjungi Ketua Umum PGI dan rombongan MPH PGI. Ini pertama dalam sejarah selama kami hidup rukun di sini,” kata Alberth.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/05/22/mengukir-sejarah-seluruh-rangkaian-sidang-mph-pgi-dan-hut-ke-76-resmi-dibuka-di-pantai-sebanjar-alor/
Disambut Tradisi Budaya hingga Doa Bersama di Dalam Masjid








































