
Kalabahi, – Ribuan peserta memadati ruas-ruas jalan di Kota Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, Senin 27 Juli 2026. Mereka mengikuti Karnaval Bulan Pendidikan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Tahun 2026 yang diselenggarakan Yayasan Pendidikan Kristen (Yapenkris) Pingdoling Alor.
Sebanyak 48 sekolah dari jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Sekitar 350 guru mendampingi ratusan peserta didik yang tampil dengan beragam atribut, kostum, dan kreasi seni, menjadikan pusat Kota Kalabahi semarak sepanjang jalur karnaval.
Karnaval dilepas langsung oleh Ketua Sinode GMIT Pdt. Semuel Benyamin Pandie dari halaman Kantor Yapenkris Pingdoling Alor. Seluruh peserta kemudian berjalan menuju Gereja Pola Kalabahi sebagai titik akhir kegiatan.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/06/13/bertabur-beasiswa-prodi-agribisnis-untrib-kalabahi-terima-mahasiswa-baru-2026-2027-gratis-15-orang-pendaftar-pertama/
Hadir dalam acara itu pengurus dan pembina Yapenkris Pingdoling Alor, Ketua Majelis Klasis Alor Barat Laut Pdt. Simon Petrus Amung, Ketua Majelis Klasis Alor Barat Daya Pdt. Doni Duka, para pendeta GMIT, Badan Pendidikan Sinode GMIT, serta kepala sekolah GMIT dari berbagai satuan pendidikan di bawah Yapenkris Pingdoling Alor.
Dalam suara gembalanya, Pdt. Semuel Pandie mengajak seluruh warga sekolah memaknai pawai bukan sekadar kegiatan seremonial. Menurutnya, pawai memiliki makna teologis yang mengandung pesan iman, persatuan, dan ketaatan kepada Tuhan.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/06/29/belis-dalam-perceraian-adat-ntt-menjaga-martabat-budaya-mencari-kepastian-hukum/

Ia mencontohkan kisah bangsa Israel yang mengelilingi Kota Yerikho sambil meniup sangkakala hingga tembok kota itu runtuh. Peristiwa tersebut, katanya, menunjukkan bahwa persatuan dan ketaatan kepada Tuhan mampu menghadirkan perubahan besar.
“Bagi sekolah-sekolah GMIT, semangat itu harus diterjemahkan dalam komitmen membangun pendidikan yang berkualitas, membentuk karakter, dan mempersiapkan generasi masa depan,” ujarnya di hadapan peserta karnaval.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa Alkitab juga mencatat pawai yang membawa pesan berbeda, yakni iring-iringan saat Yesus menuju penyaliban. Pawai itu, menurutnya, dipenuhi fitnah, kebencian, dan ketidakadilan.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/07/01/rektor-untrib-kalabahi-lepas-62-mahasiswa-dan-dpl-kkn-tematik-gentaskin-lldikti-wilayah-xv/
Karena itu, Pdt. Semuel mengajak seluruh warga sekolah menjadikan dunia pendidikan sebagai ruang yang menumbuhkan kasih, kejujuran, serta penghormatan terhadap sesama. Sekolah Kristen, katanya, harus menjadi teladan dalam membangun budaya damai di tengah masyarakat.
Sepanjang perjalanan, antusiasme peserta terlihat begitu tinggi. Barisan siswa menampilkan berbagai kreativitas, mulai dari busana daerah, pertunjukan seni, hingga atribut yang menggambarkan identitas masing-masing sekolah.
Warga yang memadati sisi jalan tampak memberikan tepuk tangan dan dukungan kepada setiap rombongan yang melintas.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/07/11/kaum-bapa-klasis-altar-gelar-diakonia-pelayanan-pengatapan-gedung-pos-pelayanan-gmit-laharoi-lakfui-dapitau/

Dua siswa SD GMIT Aimoli, Judika Suleman Duka dan Dejan Melila, mengaku senang dapat kembali mengikuti karnaval yang rutin digelar setiap tahun.
Menurut mereka, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bertemu dengan siswa dari sekolah lain sekaligus menampilkan kemampuan yang dimiliki.
Mereka juga mengatakan sekolahnya mengikuti berbagai perlombaan dalam rangkaian Bulan Pendidikan GMIT, seperti lomba: kreasi, tari lego-lego atau holeng-holeng, serta storytelling.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/07/22/kemenag-alor-gelar-seminar-pembinaan-keluarga-kristen-perkuat-ketahanan-keluarga-di-tengah-tantangan-zaman/
Ketua Yapenkris Pingdoling Alor, Mando Kolimon, mengatakan karnaval merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali semangat Pendidikan Kristen GMIT yang telah tumbuh di Alor sejak 1911.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga sarana memperkenalkan kualitas sekolah-sekolah GMIT kepada masyarakat.
Di tengah meningkatnya persaingan dunia pendidikan, sekolah-sekolah gereja dituntut terus meningkatkan mutu pelayanan sekaligus mempertahankan jati dirinya.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/07/22/kemenag-alor-dan-tim-emsi-gelar-pelayanan-terpadu-di-berbagai-wilayah-perkuat-iman-keluarga-dan-pendidikan-kristen/








































