Bupati Instruksi Pindah Lokasi, Warga Ling’al Tutup Proyek Tambatan Perahu

Proyek Tambatan Perahu di Ling'al yang sudah dicegat warga Desa, Senin (18/11).
Proyek Tambatan Perahu di Ling'al yang sudah dicegat warga Desa, Senin (18/11).

Kalabahi, –

Warga Desa Halerman Kecamatan Alor Barat Daya, berbondong-bondong mencegat atau menutup Proyek Tambatan Perahu di Ling’al. Aksi penutupan proyek tersebut dilakukan menyusul adanya keputusan politik Bupati Alor Drs. Amon Djobo menutup lokasi proyek di sidang pemandangan umum fraksi-fraksi RAPBD Tahun Anggaran 2020 di Gedung DPRD, Batunirwala.

“Kemarin (18/11) kami sudah pergi ke Ling’al dan mencegat (menutup) proyek pembangunan Tambatan Perahu. Tukang yang kerja juga kami suruh setop karena ini perintah Bapak Bupati. Ini tindakan yang kami ambil karena Bapak Bupati Alor sudah perintah pindah lokasi pada sidang di DPRD,” kata pemuda Halerman, Bay Novasianus Moyah dan Garot Potmo kepada wartawan, Selasa (19/11/2019) di Kalabahi.

Bay dan Gapot mengapresiasi keputusan politik Bupati Alor karena dinilai keputusan tersebut sangat bijaksana untuk menjaga kelestarian dan keindahan pantai Ling’al berpasir putih sepanjang 3 kilometer itu. Mereka berharap keputusan Bupati tersebut segera dieksekusi OPD teknis Dinas Perhubungan Alor untuk membongkar dan memindahkan material Tambatan jauh dari lokasi obyek wisata Ling’al.

“Kami sangat berterima kasih sekali kepada Bapak Bupati Alor yang sudah menghentikan proyek itu. Sebelumnya kami sudah tolak proyek itu karena dorang (kontraktor dan Dishub) bangun persis di tengah pasir putih. Ini yang buat kami marah, tapi kami tidak bisa berbuat banyak. Kami harap tambatan itu dibongkar dan pindah sisa materialnya yang ada taru di pasir putih,” ujarnya.

Boy dan Gapot mengecam tindakan Kepala Desa Halerman Otniel Koilhing dan Sekretaris Desa Mekson Bekak yang tidak melakukan sosialisasi dan musyawarah dengan masyarakat untuk menentukan lokasi proyek Tambatan Perahu.

Menurut mereka, prinsipnya mereka tidak menolak pembangunan Tambatan Perahu di Desanya. Akan tetapi lokasinya dinilai tidak tepat karena persis berada di tengah hamparan pasir putih yang menjadi keunikan obyek wisata Pantai Ling’al.

“Kami keluarga besar tidak pernah menyerahkan tanah itu untuk bangun Tambatan Perahu di situ. Pilihan lokasi di situ itu atas niat dan keputusan sepihak dari Kepala Desa dan Sekretais Desa. Ini yang kami kesal. Bapak Bupati dan DPRD tolong tegur mereka dua. Dari awal kami keluarga semua tolak, karena itu tempat wisata. Ternyata diam-diam Proyek sudah bangun. Saya protes, malah saya diusir dari kampung saya sendiri oleh Sekdes,” kata Gapot didampingi Bay.

“Kami minta dengan hormat kepada Bapak Bupati dan DPRD supaya kasitahu Kepala Desa dan Sekdes, jangan intimidasi kami yang menolak Proyek Tambatan Perahu di Ling’al. Terus terang, sekarang masyarakat di sana semua pada takut,” tutur Bay dan Gapot.

Berdasarkan papan informasi kegiatan, Proyek Tambatan Perahu di Ling’al dikerjakan oleh Kontraktor CV. Yanlib, Konsultan Pengawas CV. Dunia Teknik dan PPK Dinas Perhubungan Alor. Anggarannya bersumber dari DAK (APBD) Tahun 2019 sebesar Rp. 603.534.065.32. Kini progres proyek tersebut diperkirakan sudah mencapai 65%.

Untuk diketahui, Bupati Alor Drs. Amon Djobo geram mengetahui adanya proyek pembangunan Tambatan Perahu yang merusak keindahan pasir putih obyek wisata Pantai Ling’al. Mendengar itu Bupati lalu memerintahkan pemindahan lokasi Tambatan jauh dari lokasi wisata Pantai Ling’al. Sejumlah fraksi-frasi di DPRD pun bulat menolak Proyek Tambatan Perahu di tengah pasir putih Pantai Ling’al. (*dm).