
Kalabahi – Anggota DPR RI Komisi XI Fraksi Partai NasDem, Julie Sutrisno Laiskodat (JSL) melakukan kunjungan reses selama sembilan hari di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.
Reses yang dilakukan sejak tanggal 24 Februari – 4 Maret 2026 itu JSL menerima sejumlah aspirasi dan membagikan bantuan UMKM kepada warga Alor.
Berikut Wawancara tribuanapos.net dengan Bunda JSL, Selasa 3 Maret 2026 di Hotel Simphony Kalabahi, seusai melakukan seluruh agenda Resesnya di Alor.
Bunda Reses selama 9 hari? DPR lain kan kalau datang Alor hanya cuman satu atau dua hari terus pulang. Mengapa Bunda memilih 9 hari?
Kali ini reses itu jadwalnya memang saya bikin 9 hari. Ini reses saya periode kedua di tahun pertama ya. Biasanya saya bikin 3-4 hari, sekarang 9 hari supaya saya ingin melihat berbagai persoalan Alor ini lebih detail lagi.
Resesnya di daerah mana saja?
Di wilayah Kecamatan Teluk Mutiara, ABAD, Alor Timur, ATL, Lembur, ATU, Kabola, ABAL. Saya juga mampir ke kampus Untrib Kalabahi untuk berdialog dengan mahasiswa dan Pak Rektor di sana.
Saya keliling ke semua dapil minus Pantar dan Pura karena cuaca kurang bagus. Nanti saya agendakan berikut datang lagi baru nginap di Pura dan Pantar ya.
Saya memang datang reses di Alor, keliling dapil-dapil yang ada untuk melihat langsung masyarakat, dan saya mau terima kasih karena ada suara saya kemarin pemilu itu ada sekitar 6000 di Alor, di semua dapil.
Reses kali ini apa saja aspirasi yang Bunda serap dari masyarakat?
Saya keliling semua menyerap aspirasi, kira-kira apa yang harus saya bantu. Ada (aspirasi ) program pertanian, peternakan, perkebunan, kelautan, perumahan, listrik, abrasi pantai, dan lain-lain. Ini semua yang saya dapatkan dari aspirasi masyarakat.
Puji Tuhan reses saya di hari kesembilan ini sudah selesai tadi sore. Saya mendapatkan banyak sekali informasi dari masyarakat.
Ada aspirasi juga soal Listrik?
Ya ada. Contoh di Dapil Pureman itu saya memang tidak pergi ke sana tapi Ketua NasDem di Pureman datang ketemu saya, sampaikan aspirasi bahwa ternyata mereka di wilayah perbatasan itu gelap, tak ada listrik.
Saya baru tahu ternyata wilayah perbatasan ini juga ada di Pureman-Alor. Saya pikir selama ini wilayah perbatasan hanya ada di Malaka, Belu, TTU, dan TTS.
Sedihnya pada saat saya ke Timor Leste, saya lihat ke depan ke Alor itu gelap. Tapi dari kita lihat ke Timor Leste itu terang. Saya baru tahu bahwa ternyata daerah yang gelap itu Pureman.
Apakah Bunda serius mau perjuangkan listrik di Pureman?
Ya dong. Jadi ini yang akan saya perjuangkan listrik di sana, di Pureman. Karena Pureman ini adalah mukanya Indonesia, bukan lagi muka Alor tapi ini mukanya Indonesia. Saya malu sekali lihat Indonesia ini gelap di Pureman.
Harusnya kita lebih maju dari Timor Leste karena kita lebih dulu Merdeka. Mengapa kita yang gelap mereka terang? Gak bisa begitu dong.
Bunda mau perjuangkan listrik di PLN pusat?
Ya dong. Jadi saya pulang besok ke Kupang, saya akan bertemu Kepala PLN Wilayah Provinsi NTT untuk perjuangan listrik di Pureman dan desa-desa lain di Alor yang belum ada listrik.
Kalau PLN Wilayah NTT belum bisa ya nanti saya ketemu langsung PLN Pusat untuk Alor dibantu. Sekali lagi ini bukan bantu Alor tapi ini bantu Indonesia karena Pureman itu wajah Indonesia di sana. Saya akan ikuti terus PLN nanti.
Bagaimana cara usulannya?
Tadi saya sudah bertemu Pak Bupati Alor dan Pak Wakil Bupati Alor untuk minta datanya untuk saya bisa presentasi di PLN Wilayah NTT.
Karena saya reses ini saya dapat banyak masukan kalau Alor ini bukan hanya Pureman saja tapi ada sekitar 20 Desa yang belum terang.
Besok saya akan dapat datanya dari Pak (Pj) Sekda untuk saya bawa ke Kupang besok.
Selain listrik, apalagi keluhan masyarakat?
Reses ini juga saya mendapatkan banyak sekali masukan dan melihat langsung potensi sumber daya alam yang ada di Alor.
Saya melihat banyak sekali potensi pertanian, peternakan, perkebunan, kelautan, perikanan belum dikelola secara baik.
Saya lihat ada 95% masyarakat kita di Alor ini adalah Petani. Tapi orang kita masih berteriak bahwa kita ini nasib yang nanti Tuhan tolong.
Padahal pertanian, peternakan, kelautan dan perikanan ini adalah pabrik yang gak pernah tutup seumur hidup. Orang mau tua, muda, anak kecil, sakit atau sehat, tetap harus membutuhkan makan.
Makanya saya bilang dari dulu, yang ada bukan Kota kepung desa tapi desa harus kepung Kota. Di Jakarta itu kami waktu covid itu mau beli bawang aja susah. Jadi bawangnya disuplai dari desa-desa.
Bagaimana Bunda bisa perjuangkan?
Makanya saya melihat bahwa dana desa ini sangat bagus untuk kembangkan pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan dan kelautan.
Kebetulan saya di Komisi XI itu berhubungan dengan Kementerian Keuangan. Kita tahu bahwa pengeluaran negara itu lebih besar dari pemasukan. Tiap tahun kita defisit anggaran negara itu sekitar 700 Triliun.
Jadi itu bukan berarti kita pasrah saja. Nda. Ada program Presiden yang namanya Makan Bergizi Gratis (MBG).
Saya kebetulan duduk juga di Banggar dari Fraksi NasDem. Jadi kami sudah ketuk anggarannya untuk MBG ini ada 344 Triluan untuk seluruh Indonesia.
Apakah program MBG menjadi pasar yang baik?
Saya hitung jatahnya Alor untuk belanja kebutuhan sembako untuk MBG itu ada 1,6 Triliun per tahun.
Alor baru berdiri 9 dapur, dan akan tambah lagi. Menurut Pak (Pj) Sekda akan tambah lagi dapur di daerah 3T jadi total nanti ada sekitar 120 dapur MBG.
Nah jadi anggaran per hari untuk satu dapur itu ada Rp 15.000 per porsi makanan untuk satu anak ya.
Anggaran itu 2000 untuk sewa dapurnya, 3000 untuk tenaga dapur, bayar listrik dan air, dan 10 ribu untuk satu porsi makanan.
10 ribu itu untuk belanja telur, bawang, semangka, ikan, daging.
Nah, saya hitung bahwa pergerakan uang di satu dapur saja itu ada Rp 30 juta per hari untuk 3000 orang.
Artinya Rp 10.000 itu adalah hak petani dan hak nelayan di situ untuk kita harus membeli produk mereka.
Apa masalah yang Bunda temukan sehingga ini belum jalan maksimal?
Masalah yang kita hadapin sekarang adalah (ketersediaan ) telur. Telur aja masih (diimpor) dari Jawa. Ayam petelur kita sekarang tidak bisa mencukupi semua kebutuhan. Jadi duit ini haknya petani Alor tapi stor duitnya ke Jawa.
Contoh lagi Bawang. Bawang kalau kita cek di Alor itu dari Bima, NTB. Jadi duitnya adalah hak petani Alor tapi stor lagi ke Bima.
Wow, solusinya bagaimana?
Apakah kita mau jadi penonton terus? No (tidak).
Makanya kemarin acaranya BPKP, LPS, saya kumpulan Kepala Desa dan Camat, Pak Wakil Bupati dan Pak Sekda.
Saya mau bilang bahwa kalian mengeluh tentang uang tidak ada, tapi sekarang uangnya ada.
Sekarang bagaimana kalian menjaga ini uang supaya uang jangan keluar. Jangan pikir oh ini nda ada uang dan macam-macam, tapi uang desa yang ada ini kita jagain.
Jadi saya lebih ke bagaimana para camat ini bisa tolong lihat ke dapur, dia butuh kebutuhan apa saja di dapur MBG ini harus dilihat.
Setelah itu kumpulkan semua kepala desa di situ, bahas, oh lu cocoknya nanam semangka, lu cocok ada ayam petelur, lu cocok ayam pedaging, lu cocok ikan, tomat, bawang dan macam-macam.
Lalu dapur MBG yang akan berdiri di situ itu langsung dikunci, beli semua produk pertanian desa. Tidak boleh adalagi orang lain yang beli pruduk di situ.
Dikunci. Sehingga ekosistemnya dibangun di desa situ tapi semua harus dikoordinir supaya uangnya itu tidak keluar ke mana-mana.
Kaka bisa bayangkan, kalau satu orang mama-mama, dia naman bawang di halaman rumahnya, dia jual sehari mungkin 500 ribu ajalah bawangnya, sebulan dia bisa dapat 12 juta itu Kaka.
Itu baru satu orang mama-mama petani. Bayangkan kalau semua dapur belinya dari petani maka uangnya akan berputar di desa itu saja, gak keluar, masyarakat sejahtera.
Makanya saya mau supaya MBG ini baik sekali jadi tolong dijaga agar semua kebutuhan bisa dicukupi dari desa dan uangnya tidak ke luar.
Ada aparatur desa keberatan dana desa dipotong 58% untuk koperasi desa merah putih, apakah ini akan menghambat program pemberdayaan petani desa?
No. Semua akan jalan untuk program pemberdayaan. Jadi sekarang jangan lagi kita teriak naikan dana desa dan hapus MBG. Jangan. Manfaatkan kesempatan MBG yang ada untuk kesejahteraan masyarakat di desa.








































