Graha Christy Blegur Kagum Lukisan Tuhan di Alor

Graha Christy Blegur, saat berlibur ke Alor, NTT.
Graha Christy Blegur, saat berlibur ke Alor, NTT.

Kalabahi –

Sejak kecil ketika memperkenalkan diri, saya selalu mengatakan “Saya berasal dari Alor, NTT’’. Setelah itu ketika ditanya lebih jauh tentang Alor, saya bisa bercerita tentang keindahan alam, terutama alam bawah laut dan pantai yang bersih.

Bercerita itu mudah, tapi memaknai cerita itu dengan pengalaman dan ucapan syukur kepada Allah akan alam, ini yang perlu saya cari. Oleh karena itu, ketika orang tua memanggil, waktu menjadi tersedia untuk pulang ke rumah, Alor.

Ini bukan pengalaman pertama kembali ke tempat asal, ini hanya enam hari baik lain untuk bertemu dengan alam, keluarga dan budaya Alor.

Perjalanan kali ini memberi kesempatan pada alam untuk menunjukkan diri di beberapa tempat.

Perjumpaan pertama dengan kopi dan strawberry di Atimelang. Setelah dua tahun bekerja dan mengenal kopi Flores, saya merasa kopi Atimelang tidak kalah kopi Flores yang bisa terkenal ke Amerika.

Pengetahuan saya tentang produksi dan pemasaran kopi memang terbatas. Tapi kemudian harapan terangkat, akan ada saatnya kopi Atimelang juga bisa dikenal oleh teman lain di luar Alor.

Strawberry Atimelang Kualitas Bagus

Selain kopi, strawberry juga jadi menu asli dari penduduk yang bisa dibanggakan. Teringat ketika menghabiskan waktu hampir 4 tahun di Bandung, strawberry menjadi satu jenis buah yang dicari orang. Baik strawberry asli, strawberry yoghurt, strawberry cake, dan olahan strawberry lain, laris dicari.

Pengalaman disuguhi strawberry asli ini akan menghilangkan kesan orang yang datang bahwa makanan yang biasa ditemui di desa hanya ubi, jagung dan singkong. Karena desa ini satu di antara desa lain yang berbeda dan spesial.

Perjumpaan kedua dengan pantai. Satu hal yang saya suka dari Alor adalah pantai bersih yang mudah dijangkau. Saya tidak perlu menyeberang ke pulau lain dengan perahu untuk bisa snorkeling di laut yang jernih, cukup terjangkau di Kalabahi.

Mungkin masih banyak referensi pantai, tapi sejauh ini pantai Sabanjar dan pantai Batu Putih menjadi favorite menghabiskan waktu. Kita akan mengagumi lukisan Tuhan jika snorkeling di sana.

Pantai menjadi tempat istimewa saya sejak kecil. Entah mengapa, hanya rasa rindu untuk pergi ke sana selalu ada. Dan bahagianya ketika berada di pantai berbeda dengan tempat lain.

Melihat matahari terbenam juga membawa warna tersendiri dalam perjalanan 6 hari. Ini menjadi momen untuk mensyukuri satu hari yang sudah diberikan dan berdoa untuk hari esok.

Takpala, Simbol Budaya Alor

Perjumpaan ketiga yang menarik adalah ketika akhirnya saya bisa mengunjungi Desa Adat Takpala. Ada seseorang yang pernah sampaikan sebelumnya, “yah, terlambat, orang lain dari Jakarta semua sudah pernah ke Takpala. Masa yang orang Alor baru mau pergi sekarang’’. Mungkin terlambat bagi banyak orang, tapi bagi saya, selama masih bisa bernapas tidak ada kata terlambat untuk mengikuti kata hati.

Ada dua hal menarik yang saya temukan di Desa Takpala. Pertama, saya terkesan dengan seorang Ibu yang membantu saya menggunakan pakaian adat. Dengan menggunakan sarung, Ibu yang usianya lebih dari 50 tahun ini sangat sopan, sabar dan lembut. Saya berpikir mungkin ini hasil dari pengalaman disertai nilai budaya asli yang melekat pada dirinya. Sangat jarang menemukan seorang wanita yang bisa selembut itu.

Hal kedua yang sederhana, saya merasakan perbedaan sentuhan budaya asli dengan modernitas yang akhirnya menjadi hal penting. Ada perbedaan cara ketika kita menggunakan pakaian modern dengan pakaian adat.

Ketika menggunakkan pakaian adat wanita, saya merasa kita secara otomatis diminta untuk menjadi lebih anggun karena ada kebanggaan tersendiri.

Budaya Alor Unik

Menggunakan kain tenun dengan ikat pinggang, kalung, gelang dan headpiece dari bahan alami, tentu ada perasaan “seperti inilah wanita Alor sesungguhnya’’. Berbeda ketika saya menggunakkan pakaian modern. Terasa aslinya bukan berasal dari negara ini. Lebih praktis dan fleksibel memang, tapi kurang terasa keunikan budaya dan identitas asli.

Saya merenung, mungkin ini yang menyebabkan Ibu itu (yang membantu saya menggunakan pakaian adat) menjadi sosok yang begitu lembut. Karena beliau mengerti betul adat wanita Alor sesungguhnya: lembut tapi punya hati yang teguh.

Semua pengalaman itu, bagi saya pertemuan dengan keluarga di Alor lebih berharga. Pertemuan dengan anak-anak Desa Atimelang hadiah kesempatan dari Allah. Walau hanya sebentar bisa bertemu untuk melihat mereka bermain dan tertawa.

Ketika hendak pulang dari Takpala, ada seorang anak berlari datang memeluk saya seakan sudah kenal lama. Pelukan tangan kecil itu menutup tanggal, 7 Juli 2017 menjadi sangat indah karena saya tahu, mereka anak-anak hari ini tapi pemimpin di hari esok.

Pemuda Alor, Ayo Berkarya 

Setelah itu, setiap harinya perjalanan saya dianugerahi dengan orang-orang luar biasa yang sedang berkarya di Alor. Salah satunya dengan mengenal No Ayu, wanita muda yang menjadi penggiat pariwisata Alor.

Ia memiliki visi tegas untuk pariwisata daerah ini. Kenapa visi tegas? Karena visinya bukan hanya retorika tapi diimplementasikan melalui karya nyata yang berdampak. Ia memulai dengan apa yang ada padanya dan memberi diri untuk mengembangkan tidak hanya pariwisata saya lihat, tapi juga semangat pemuda dan anak-anak di Alor.

Melihat karya No Ayu yang berani, jadi teringat pesan salah satu penulis tua Indonesia, Pramoedya Ananta Toer dalam buku Jejak Langkah, ‘’Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak’’.

Keberanian karya dan wadah positif pemuda Alor seperti No Ayu, sesuai dengan kapasitas dan passion masing-masing, rasanya menjadi kunci kemajuan daerah.

Dari dasar hati, doa terangkat untuk Alor, untuk para pemimpin, para jiwa muda di Alor, para wanita Alor, anak-anak baik yang tinggal di Alor maupun yang sedang berkarya di luar Alor. Sekiranya semangat tara miti tomi nuku tetap menyala dalam bentuk kasih dan perjuangan kita masing-masing.

Karena bukan tentang di depan atau di belakang, bukan tentang kaya atau miskin, bukan tentang menang atau kalah, tapi keberadaan kita adalah untuk memenuhi tujuan hidup dari Sang Pencipta dunia ini.

Akhir kata, kebersamaan enam hari dengan alam, keluarga dan budaya Alor akan menambah makna dan pengalaman pada cerita saya tidak hanya ketika memperkenalkan diri saja tapi menjadi catatan kecil dalam kehidupan, (*).

*Graha Christy Blegur (Putri semata wayang, Imanuel Ekadianus Blegur dan Marselina Blegur).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here