Viral !! Wakil Bupati Alor Ancam Copot Kepala Sekolah yang Tak Mampu Bina Siswa Tawuran

Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo. (Sumber foto: victorynews.id).
Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo. (Sumber foto: victorynews.id).
KALABAHI, – Pernyataan Wakil Bupati Alor, Rocky Winaryo, terkait maraknya aksi kekerasan yang melibatkan pelajar di Kabupaten Alor menjadi sorotan publik setelah videonya beredar luas dan viral di media sosial.
Komentar tersebut diduga disampaikan Rocky Winaryo saat melakukan siaran langsung (live streaming) melalui akun TikTok pribadinya ketika mengantar jenazah korban pembunuhan Raja Morib dari Kupang menuju Alor pada Senin, 11 Mei 2026.
Cuplikan video tersebut kemudian diposting ulang oleh akun media sosial Info NTT pada Minggu, 31 Mei 2026, dan mendapat berbagai tanggapan dari masyarakat.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/05/29/rayakan-hut-ke-76-pgi-di-alor-gubernur-ntt-gaungkan-ekonomi-kerakyatan-dan-pesan-perdamaian-abadi/
Dalam video yang beredar, Rocky Winaryo menyoroti maraknya penggunaan panah oleh kalangan pelajar dan meminta pihak sekolah untuk lebih serius melakukan pembinaan terhadap siswa.
“Kemarin saya bicara di beberapa sekolah, saya bilang hati-hati dengan panah. Dulu kita lempar batu, ya sudah. Kepala bocor, ya sudah. Jahit tiga jahitan ya sudah. Sekarang anak-anak sekolah pakai panah. Ini saya minta guru-guru semua, kepala sekolah tolong perhatikan. Besok saya ketemu Kadis Pendidikan, kepala sekolah (SMA/SMK) yang tidak bisa urus anak diganti semua, digeser. Kepala SMP juga sama,” ujar Rocky dalam video tersebut.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/05/29/rayakan-hut-ke-76-pgi-di-alor-ketum-pgi-tegaskan-esensi-relasio-ergo-sum-dan-panggilan-menjaga-semesta/
Rocky juga memberikan peringatan kepada para guru dan kepala sekolah tingkat SMP maupun SMA agar lebih tegas dalam membina peserta didik.
“Nah ini orang tua dan guru. Guru-guru sekali lagi saya peringatkan, ini terakhir. Guru-guru SMA, guru-guru SMP. SMA saya bisa ketemu Kadis, ketemu Gubernur untuk memberi warning. Kalau SMA-nya tidak bisa urus anaknya, kepala sekolahnya dicopot. Gurunya dikasih mutasi, pindah ke mana biar yang dari mana bisa datang urus. Kalian tidak bisa urus muridnya bagaimana sampai tiap hari ribut, tidak bisa atur. Bisa aturlah,” tegasnya.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/05/30/belum-bayar-gaji-5-bulan-guru-pppk-paruh-waktu-mengamuk-di-dinas-pendidikan-alor/
Menurut Rocky, jabatan yang diberikan kepada seorang kepala sekolah maupun guru harus dimanfaatkan untuk menciptakan ketertiban dan kedisiplinan di lingkungan pendidikan.
“Kita dikasih jabatan itu untuk bisa ngatur. Keras sedikit sama murid. Sekarang sudah meninggal begini, mau bagaimana sekarang kita. Saya harap guru-guru juga tidak perlu ada pembelahan diri dari saya bicara ini. Semua koreksi. Kita semua salah. Kita terlalu anggap remeh. Tidak peduli,” katanya.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/06/01/perkuat-literasi-digital-gamki-alor-siapkan-pelatihan-multimedia-gratis-bagi-humas-gereja-sekolah-dan-pemerintah/
Pernyataan tersebut disampaikan Wabup di tengah duka atas meninggalnya Raja Morib. Korban menghembuskan nafas terakhir di RSUP dr. Ben Mboi Kupang pada 10 Mei 2026 setelah sebelumnya menjadi korban penyerangan menggunakan panah oleh orang tak dikenal pada 4 Mei 2026 di Kampung Baru, Kelurahan Nusa Kenari, Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor.
Hingga saat ini, kasus pembunuhan Raja Morib masih dalam penyelidikan aparat kepolisian. Polres Alor belum mengungkap identitas pelaku penyerangan yang menyebabkan korban meninggal dunia.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/06/01/pimpin-upacara-harla-pancasila-wakil-bupati-alor-ajak-generasi-muda-jadikan-pancasila-living-ideologi/
Kapolres Alor, AKBP Nur Azhari, bersama jajaran Satuan Reserse Kriminal Polres Alor memastikan bahwa proses penyelidikan terus dilakukan guna mengungkap pelaku dan motif di balik peristiwa tersebut.
Kasus ini mendapat perhatian luas masyarakat Alor dan Nusa Tenggara Timur, terutama terkait meningkatnya aksi kekerasan yang melibatkan generasi muda serta harapan agar seluruh pihak, termasuk keluarga, sekolah, pemerintah, dan aparat keamanan, dapat bersama-sama mencegah terulangnya kejadian serupa.
Editor: Demas Mautuka