HUT ATU ke 19, Bupati Alor Kenang Sulitnya Bangun Alor Dulu

Bupati Alor Drs. Amon Djobo (kedua kiri), didampingi Ketua DPRD Enny Anggrek (kiri) dan Camat ATU Sabdi Makanlehi (kedua kanan), potong nasi kuning khas Alor di acara HUT ke 19 Kecamatan ATU, Senin (16/3) di Mebung.
Bupati Alor Drs. Amon Djobo (kedua kiri), didampingi Ketua DPRD Enny Anggrek (kiri) dan Camat ATU Sabdi Makanlehi (kedua kanan), potong nasi kuning khas Alor di acara HUT ke 19 Kecamatan ATU, Senin (16/3) di Mebung.

Kalabahi –

Kecamatan Alor Tengah Utara (ATU), kini berusia 19 Tahun. Bupati Alor Drs. Amon Djobo mengucap syukur, ATU masih eksis berdiri dan memiliki kemajuan-kemajuan pembangunan di segala bidang.

Moment HUT, Bupati mengenang kisah sulitnya pemekaran Kecamatan ATU Kabupaten Alor dulu. Kala itu Amon Djobo masih aktif menjabat Asisten III Setda Alor.  Bupatinya, Ir. Ansgerius Takalapeta dan Wakil Bupati Drs. Abraham Maulaka.

Bupati Amon berkisah, kala itu, pemerintah kabupaten Alor berkomitmen memekarkan kecamatan-kecamatan di Alor yang luas wilayah dan  jumlah penduduknya besar. Komitmen pemerintah rupanya tak berjalan mulus. Ada perdebatan sengit, utamanya pada posisi batas wilayah dan letak ibukota kecamatan.

Kecamatan ATU sebelum tahun 2001 mekar, masih bergabung dengan kecamatan induk, Alor Barat Laut (ABAL). Ketika itu pembahasan pemekaran kecamatan ABAL sempat menuai kontrovesi baik di DPRD maupun di masyarakat. Para tokoh politik dan masyarakat meminta agar pusat ibukota kecamatan harus berada di wilayah Mainang atau Welai Selatan.

Perimbangannya bahwa, bila pusat ibukota berada di wilayah Mainang atau Welai Selatan maka akses pelayanan publik lebih mudah dijangkau. Sisi lainnya, pusat ibukota tersebut bisa mengakomodir semua desa karena berada di tengah wilayah desa-desa yang ada.

Baca Juga:

https://tribuanapos.net/2020/03/17/ketua-dprd-sebut-kemiskinan-alor-urutan-16-ntt-presiden-tambah-dana-kpm/

Pemerintah menilai bahwa keinginan masyarakat tersebut tidak bisa dipenuhi. Karena pada waktu itu pertimbangan pemerintah bila pusat ibukota dibangun di Mainang atau Welai Selatan maka akan menguras sebagian lahan basah pertanian dan perkebunan. Pembangunan infrastruktur gedung kantor kecamatan tentu berdampak pada luas tanah produksi pertanian yang ada di sana.

Sebelumnya, pemerintah dalam perencanaan daerah telah menetapkan Mainang dan Welai Selatan sebagai pusat ekonomi pertanian dan perkebunan karena memiliki daerah subur.

Pada aspek lainnya, akses infrastruktur dan informasi masih sulit menghubungkan wilayah-wilayah desa di calon Kecamatan ATU. Oleh sebab itu, pemerintah bernegosiasi, lobi politik dengan DPRD dan masyarakat untuk memindahkan pusat ibukota kecamatan ATU ke Mebung.

Negosiasi tersebut mendapat kesepakatan dari DPRD dan masyarakat meskipun ada satu dua di antaranya tidak menerima keputusan itu. Pemerintah menganggap keputusan pemindahan lokasi ibukota di Mebung menjadi solusi menjaga lahan produksi di Mainang maupun di Welai Selatan sebagai pusat ekonomi Alor.

Bagi Amon Djobo, keputusan pemindahan ibukota kecamatan ATU adalah suatu sejarah panjang yang dicatat dalam lembar pembangunan Kabupaten Alor. Amon Djobo meminta generasi muda memaknai sejarah tersebut untuk menjadi motifasi dalam berkarya membangun Alor.

Baca Juga:

https://tribuanapos.net/2020/03/17/ketua-dprd-alor-soroti-data-bansos-kpm/

“ATU Ibukota kecamatan waktu itu ada di Mainang atau di Welai Selatan. Karena kesulitan-kesulitan transportasi, komunikasi, daya dukung lahan yang tidak menjamin, maka ibukota kecamatan diturunkan kembali di Mebung. Ini adalah sejarah,” katanya ketika sambutan di HUT – 19 ATU, Senin (16/3) di Mebung.

“Kalau ibukota kecamatan tetap di atas (Mainang dan Welai Selatan) maka paling tidak lahan-lahan basah itu akan diambil oleh seluruh fasilitas pemerintahan maka masyarakat akan mati. Maka di atas itu wilayah-wilayah tumbuh dari sisi ekonomi tetap ibukota kita turunkan di sini (Mebung),” pungkasnya.

Amon Djobo menaruh hormat dan mengucapkan terima kasih kepada masyarakat dan para tokoh ATU maupun ABAL yang turut mendukung pemekaran kecamatan ABAL menjadi ATU. Ia mengajak seluruh undangan untuk memberi penghormatan khsusu pada tokoh pembangunan Alor.  Karena tanpa mereka, ATU tak mungkin ada dalam sejarah Alor.

“Camat-camat saat itu diperhadapkan dengan persoalan pembangunan yang terlalu rumit. Ini mereka punya keluarga ada hadir secara keseluruhan. Mama Laata, ada mama Kaituka. Ini senior, orang-orang yang berjasa terhadap kecamatan ini. Masalah ATU ini rumit. Berat. Tidak gampang (mengurusnya) ini,” tutur Amon.

Bupati Amon juga menyinggung sejarah perjalanan dua kecamatan tua di Alor yaitu Kecamatan Alor Barat Laut (ABAL) dan Kecamatan Alor Barat Daya (ABAD). Ia menyebut, kecamatan ABAL berhasil melahirkan anaknya yaitu kecamatan ATU. Sementara Kecamatan ABAD, baru diwacanakan dimekarkan menjadi kecamatan ABAD Selatan. Perencanaannya pun sudah masuk dalam Ranperda pemekaran kecamatan tahun 2020.

“Syukur, kecamatan Alor Barat Daya hampir masuk pada usia 47 tahun, sudah beranak lagi satu kecamatan ABAD selatan yang rekomendasinya sudah keluar, tinggal akan diproses lebih lanjut menjadi kecamatan baru. Luar biasa itu,” ungkapnya disambut aplaus undangan.

Baca Juga:

https://tribuanapos.net/2020/03/17/ketua-dprd-alor-tidak-ada-masalah-brilink-potong-biaya-administrasi/

“Yang tidak mau beranak baru lagi itu kecamatan Alor Tengah Utara ini, tidak mau sama sekali. Dan itu kecamatan mandul di bawah kolong langit ini. Kecamatan mandul artinya tidak berkembangbiak. Kira-kira begitu e?” ujarnya disambut tawa undangan.

Untuk itu Bupati mengucapkan terima kasih kepada semua yang sudah berkontribusi besar dalam kemajuan-kemajuan di kecamatan ATU hingga memasuki usia 19 tahun. Kemajuan-kemajuan tersebut sekarang ini dirasakan bahwa Mebung sudah menjadi pusat Ibukota baru.

Amon Djobo juga menyinggung pemekaran kecamatan Teluk Mutiara menjadi kecamatan Welai Lembur atau Welem. Bila jadi dimekarkan maka Bupati Amon menyebut batas wilayahnya berada di Kali Gereja Puildon sampai di wilayah Fanating.

HUT ATU tersebut Bupati berpesan kepada pemerintah desa, kecamatan, masyarakat dan seluruh komponen yang ada untuk mengisinya dengan karya-karya pembangunan yang kreatif dan inovatif. Bupati mendukung langkah Camat ATU Sabdi Makanlehi menetapkan hari Jumat sebagai hari konsumsi pangan lokal; makan Marungga, Ubi Gatal dan minum just Cengkeh dan buah Rambutan.

“Ini gagasan, ide, metode-metode baru dari pak Camat. Ini sudah lama tapi diangkat kembali oleh pak Camat yang baru ini. Kita makan Marungga tidak kena virus Corona. Corona datang na pigi kena suanggi, jangan kena manusia. Amen?” pungkas Bupati disambut tawa undangan.

Hadir di acara itu, Ketua DPRD Alor Enny Anggrek, Dandim 1622 Alor Letkol Inf Supyan Munawar, S.Ag, utusan Kajari Alor, Kapolsek ATU Aiptu Onan Ndolu, Mantan Kadis PMD Mel Maulaka, Mantan Camat ATU Iskandar Lakamau, SH, unsur pejabat lainnya dan tokoh masyarakat ATU. (*dm).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here