
KALABAHI, — Ada rasa terkejut, bahagia, haru, sekaligus bangga yang bercampur dalam hati Semuel Padama ketika pertama kali menyaksikan video putranya, Adriano Padama, berdialog langsung dengan Menteri Pertanian Republik Indonesia Andi Amran Sulaiman.
Sebagai seorang ayah, Semuel mengaku sempat khawatir. Bukan karena putranya berani berbicara di hadapan seorang menteri, melainkan karena Adriano membawa persoalan publik yang disertai angka dan data.
Semuel mulanya takut data yang disampaikan anaknya mengenai harga dan distribusi beras di Kabupaten Alor tidak tepat.
Namun kekhawatiran itu justru berubah menjadi kekaguman.
“Pertama saya sedikit kaget, lalu bahagia, tetapi bercampur sedih, kagum, karena dia bisa berani seperti itu,” ujar Semuel Padama dalam wawancara dengan wartawan tribuanapos.net, Sabtu 8 Agustus 2026 di kediamannya, Jembatan Hitam.
Menurut Semuel, keberanian Adriano bukan keberanian tanpa dasar. Putranya berbicara dengan lantang, tetapi tetap membawa data dan fakta mengenai persoalan harga beras yang dirasakan masyarakat Alor.
“Dia bicara dengan lantang, dengan berani, dengan jujur, dengan polos, dan dengan data,” katanya.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/07/22/kemenag-alor-dan-tim-emsi-gelar-pelayanan-terpadu-di-berbagai-wilayah-perkuat-iman-keluarga-dan-pendidikan-kristen/
Sempat khawatir data Adriano keliru
Sebagai orang tua, Semuel justru melakukan hal yang mungkin tidak banyak diketahui publik. Ia mengecek kembali data yang dibawa Adriano dalam dialog tersebut.
Semuel mengatakan dirinya sempat berpikir, apakah angka-angka yang disampaikan Adriano benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Saya khawatir, jangan sampai anak saya asal bicara. Data juga harus data yang konkret,” ujarnya.
Ia kemudian mencari dan mencocokkan data tersebut.
Hasilnya membuat Semuel semakin yakin.
Menurut dia, apa yang disampaikan Adriano mengenai harga, distribusi, serta kondisi masyarakat yang menikmati atau belum menikmati beras dengan harga terjangkau ternyata sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Bahkan, ketika dilakukan uji petik langsung di sejumlah wilayah, kondisi tersebut kembali ditemukan.
“Saya cek kembali mengenai harga, menyangkut distribusi, menyangkut siapa yang belum menikmati dan siapa yang sudah menikmati,” tutur Semuel.
Bagi Semuel, persoalan beras bukan sekadar angka di atas kertas.
Distribusi pangan, kata dia, seharusnya dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di wilayah pedalaman dan pelosok.
“Barang ini seharusnya distribusinya merata, semua harus menikmati,” katanya.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/07/22/ketua-yapenkris-pingdoling-alor-buka-ajang-kreasi-siswa-awali-rangkaian-perayaan-bulan-pendidikan-gmit-2026/
Kritik Adriano berujung pada perubahan di lapangan
Hal yang membuat Semuel semakin terharu adalah respons Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman setelah mendengar langsung persoalan yang disampaikan Adriano.
Menurut Semuel, Mentan tidak berhenti pada jawaban verbal. Persoalan tersebut langsung ditindaklanjuti.
Bahkan, tidak lama setelah dialog berlangsung, menurut penuturan Semuel, terjadi perubahan harga beras di lapangan.
Ia menyebut adanya penjualan beras melalui Bulog dengan harga yang lebih rendah di wilayah Alor.
“Pertama saya berterima kasih kepada Menteri, karena dia langsung merespons. Saat itu juga dia langsung eksekusi,” ujar Semuel.
Ia menuturkan, sekitar satu jam setelah respons tersebut, penjualan beras murah mulai terlihat di lapangan, salah satunya di Desa Lembur Barat.
Perubahan harga itu, menurut Semuel, menjadi bukti bahwa suara masyarakat yang disampaikan Adriano tidak berhenti sebagai percakapan.
Ada respons kebijakan yang langsung dirasakan.
“Harga beras dari yang sebelumnya Rp65.000 menjadi Rp57.000 untuk yang lima kilogram. Ada perubahan harga yang nyata,” katanya.
Bagi keluarga Padama, momen itu menjadi sesuatu yang sulit dilupakan.
Seorang mahasiswa yang baru memasuki dunia perguruan tinggi tiba-tiba berhadapan langsung dengan seorang menteri. Ia menyampaikan persoalan kampung halamannya, lengkap dengan data.
Dan suara itu didengar.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/07/28/gmit-perkuat-kompetensi-guru-dan-kepala-sekolah-yapenkris-pingdoling-siapkan-sentralisasi-gaji-pada-2028/
Semuel mengaku heran: kritik anaknya langsung dijawab Menteri
Semuel mengakui dirinya sempat merasa heran.
Ia tidak menyangka aspirasi yang disampaikan putranya akan mendapatkan respons begitu cepat dari pemerintah.
Namun Semuel melihat ada momentum yang tepat.
Persoalan pangan sedang menjadi perhatian besar Nasional. Karena itu, ketika Adriano mengangkat persoalan harga dan distribusi beras di Alor, masalah tersebut dengan cepat mendapat perhatian lebih luas.
“Jadi mungkin momennya juga pas. Dia angkat masalah ini, dan masalah ini sementara menjadi masalah nasional yang menjadi konsen Pak Menteri,” ujar Semuel.
Semuel berharap perhatian pemerintah tidak berhenti pada satu momentum.
Ia ingin harga beras tetap terjangkau dan distribusinya semakin merata, terutama hingga wilayah-wilayah terpencil di Alor yang selama ini belum selalu menikmati beras program pemerintah.
“Ada beberapa daerah terpencil di Alor yang belum pernah merasakan beras SPHP,” katanya.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/07/30/pemerintah-dan-sinode-gmit-kompak-dukung-transformasi-pendidikan-kristen-lingkup-yapenkris-pingdoling-alor/
Adriano ternyata tidak pernah disuruh ayahnya untuk berbicara
Di balik keberanian Adriano, ada satu hal yang justru membuat ayahnya sendiri heran.
Semuel mengaku tidak pernah secara khusus mengajarkan atau menyuruh Adriano untuk berani mengkritik kebijakan publik.
Termasuk ketika Adriano mengangkat persoalan harga beras di hadapan Mentan.
“Saya dan istri (Ady Irma Rtebana) tidak pernah suruh dia omong begitu. Makanya saya heran,” ujar Semuel.
Menurut dia, keberanian tersebut muncul secara alami dari dalam diri Adriano.
Tidak ada perintah dari orang tua. Tidak ada skenario keluarga.
“Saya tidak pernah menyuruh dia bertanya soal harga beras. Itu spontan dari dirinya sendiri,” katanya.
Semuel melihat Adriano sebagai anak yang memiliki rasa ingin tahu besar terhadap berbagai persoalan di sekitarnya.
Ia tidak sekadar melihat masalah.
Adriano, kata Semuel, cenderung mencari tahu mengapa masalah itu terjadi dan bagaimana jalan keluarnya.
“Dia tipe orang yang melihat problem sosial. Dia harus berpikir bagaimana solusinya,” ujar Semuel.
Ketika menemukan persoalan, Adriano disebut akan mencari informasi dari berbagai sumber, membaca, dan mempelajari persoalan tersebut secara mandiri.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2026/07/31/opini-19-tahun-untrib-merawat-warisan-membenahi-masa-depan/





































