Covid-19, Penyakit ‘Seribu Wajah’

Dr. Handrawan Nadesul
Dr. Handrawan Nadesul

COVID-19
PENYAKIT “SERIBU WAJAH”

Oleh: Dr. Handrawan Nadesul

Ya, penyakit Covid-19 dijuluki The 1000 Faces disease, saking banyaknya manifestasinya, bukan hanya satu entitas. Atau sama sekali tanpa gejala nyata.

Gejala Covid-19 yang paling khas juga tidak selalu nyata. Cenderung menyerupai flu. Kalau ada yang lebih khas, disertai keluhan sesak napas. Ada juga gangguan penghiduan (anosmia) kurang tajam dalam menghidu, hilang rasa bebauan, dan ini termasuk bagian dari gejala gangguan otak. Dilaporkan ada kasus Covid-19 yang muncul dengan gejala otak berupa radang selaput otak atau meningitis. Ada pula kasus Covid yang hanya memperlihatkan gejala dan tanda menyerupai campak, bintik-bintik merah ruam pada kulit (morbilli formis).

Kita sudah memahami bahwa serangan Covid-19 memasuki tubuh manusia itu bisa mengenai semua organ atau multiorgan. Paling banyak menyerang paru dan atau jantung. Semua organ memiliki sel reseptor atau penermia yang mengandung enzim ACE-2 (angiotensin converting enzym). Terhadap sel penerima ini Covid-19 melekatkan diri untuk kemudian memasuki sel, lalu berbiak-biak.

Baca Juga: https://tribuanapos.net/2020/04/20/ayo-gerakan-konsep-prosumen-mana-tahu-pandemi-masih-berkepanjangan/

Oleh karena perlintasan masuk ke tubuh manusia melalui saluran napas, maka paru menjadi target Covid-19 yang paling dekat terjangkau. Di paru Covid-19 bersarang di dalam balon-balon alveolar, yakni bagian ujung pembuluh paru tempat udara napas berpindah memasuki darah.

Alveolar paru mengalami kerusakan oleh bersarangnya Covid-19 di situ, sehingga proses masuknya oksigen udara ke dalam darah terhambat. Gejalanya sesak napas, sampai pada tahap yang berat terjadi gagal napas (acute severe respiratory syndrome). Ini terjadi apabila seluruh alveolar paru sudah tidak berfungsi. Kerusakan paru demikian dapat terlihat jelas dengan CT-scan paru yang memberi gambaran alas gelas yang buram (ground glass opaque). Gambaran paru seperti ini khas pada radang paru Covid-19.

Baca Juga: https://tribuanapos.net/2020/04/20/covid-19-mungkin-di-alas-kaki-anda/

Saking semakin banyak kasus Covid-19, sekarang setiap menemukan gambaran CT-scan paru apa pun, kecuali emphysema (komplikasi paru oleh asma), atau radang selaput paru (pelutitas), harus dicurigai sebagai pneumonia sebab Covid-19.

Namun sayangnya tidak semua kasus Covid-19 memperlihatkan gejala dan tanda senyata selengkap itu. Mungkin cuma demam semata, atau batuk semata.

Kematian sebab Covid ditentukan oleh seberapa segera kasus ditangani. Makin terlambat makin kecil kemungkinan terselamatkan. Sedang rapid test darah juga tidak selalu pasti, baru positif paling cepat setelah seminggu. Tes menemukan virus langsung lewat apus hidung-tenggorok (swab) juga bisa negatif palsu. Ada kasus Covid-19 PCR hidung tenggorok negatif tapi Covid-19 ditemukan di cairan otak (liquor cerebrospinalis). Ada juga Covid-19 yang ditemukan di tinja.

Baca Juga: https://tribuanapos.net/2020/04/18/foto-foto-hoax-pasien-01-covid-19-ntt-yang-beredar-di-jagat-maya/

Untuk uji penalisan atau skrining massal sederhana dengan rapid test darah, karena hanya mendeteksi suhu badan tidak spesifik bila tidak dilanjutkan dengan pemeriksaan lanjutan rapids test, dan kalau masih meragukan dilanjutkan dengan pemeriksaan rT-RT-PCR. Namun langsung pemeriksaan rtRT-PCR tidak murah kalau dilakukan massal.

Lebih pasti bila ada kasus meragukan, dengan gejala dan tanda Covid-19, ada riwayat kontak, atau terdampak dengan pembawa Covid-19, dilakukan CT-scan paru untuk menemukan gambaran khas alas gelas yang buram (GGO).

Oleh karena gambaran klinis Covid-19 tidak selalu nyata dan khas, bisa tampil dengan aneka gejala dan tanda, maka pegangan klinis memerlukan dukungan pemeriksaan laboratorium (clinical pathology).

Baca Juga: https://tribuanapos.net/2020/04/18/anggota-dprd-ntt-bantu-sembako-30-medis-yang-karantina-diri-di-rsud-kalabahi/

Semua kasus dengan Govid-19 barang tentu akan menunjukkan hasil sekurangnya dari pemeriksaan darah yang spesifik. Sel darah putih leucocyt menurun. Pada pemeriksaan jenis sel darah putih lynphocyt menurun sedang neutrophyl meningkat (N/LR), yang tidak pada penyakit lain. Selain itu CRP (C-reactive-protein) juga meninggi. Membaca hasil laboratorium dengan gambaran seperti itu hampir pasti Covid-19 positif. Terlebih bila CT-scan memberi gambaran alas gelas yang buram.

Ada temuan kasus Covid-19 yang disangka DB (demam berdarah) karena test darah positif, ternyata Covid-19 lantaran terjadi kekebalan silang (cross immunity) Covid-19 dengan DB. Salam sehat. (*).

*Dr. Handrawan Nadesul adalah dokter yang kini konsen menulis buku kesehatan termasuk buku covid-19. Ia tinggal di Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here