El Asamau: Stigma Pembawa Virus Membuat Saya Nyaris Gila

Pasien 01 positif Covid-19 NTT El Asamau ketika masih dirawat di RSU Prof. Dr. W. Z. Yohanes Kupang.
Pasien 01 positif Covid-19 NTT El Asamau ketika masih dirawat di RSU Prof. Dr. W. Z. Yohanes Kupang.

Kupang –

El Asamau resmi sembuh dari virus corona setelah dua minggu dirawat di RSU Prof. W. Z. Yohanes Kupang. El kemudian berbagi cerita seputar kesembuhannya. Ternyata dia sempat drop dan nyaris gila dicap pembawa virus dari netizen nakal.

“Banyak netizen memberi dukungan doa pada kesembuhan saya, tidak sedikit pula mengomentari secara sinis dan terkesan membuly. Ada juga yang mengomentari dengan stigma negatif, saya pembawa virus. Stigma itu membuat saya drop dan nyaris gila,” kata El dihubungi wartawan, Minggu (26/4) di Kupang.

Semenjak berada di ruangan isolasi, El berkisah bahwa ia sempat drop secara mental di tiga hari pertama, karena dia tidak menyangka akan divonis terpapar corona. Apalagi pengakuannya secara terbuka melalui akun youtubenya El Asamau Official tanggal 9 April lalu menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.

“Saat masuk hari kedua itu saya mulai diam. Perawat melihat ada yang aneh pada diri saya, tidak seperti hari sebelumnya. Saya tidak ingin bicara, tidur-tiduran saja, sedih hingga menangis dalam ruangan. Bahkan saya mematikan telepon karena merasa gagal, tidak bisa berbuat apa-apa untuk keluarga, tidak berguna bagi orang lain. Saya memutuskan tidak berkomunikasi dengan orang, termasuk dengan istri,” katanya.

Baca Juga: https://tribuanapos.net/2020/04/24/sembuh-dari-coronavirus-pasien-01-covid-19-ntt-terima-kasih-untuk-semua/

El mengatakan, alasan dia drop karena tidak bisa bereaksi dengan baik terhadap dampak dari ia divonis dan di isolasi.

Awalnya dia memposting status positif corona melalui akun youtube dengan maksud memberikan informasi kepada keluarga dan rekannya yang menanyakan kondisi kesehatannya. Hal itu El lakukan, sekaligus memastikan kepada mereka bahwa ia baik-baik saja sehingga keluarga dan teman tidak perlu khawatir namun tetap waspada.

El mengisahkan, tanggal 9 April sekitar jam 3 sore ia mendapat hasil medis dari RSU. Banyak keluarga dan sahabatnya sontak menguhubungi untuk menanyakan keberadaan dan kondisi kesehatannya hingga jam 12 malam. El tahu bahwa data medisnya itu sudah bocor sebelum ada rilis resmi dari Satgas Covid-19 Provinsi NTT.

Sebetulnya El tidak ingin membalas pertanyaan keluarga dan sahabat karena tidak ingin mereka khawatir. Namun ketika dia sadar informasinya bisa membantu tracing orang-orang yang pernah kontak erat dengannya, akhirnya ia putuskan membuat dan mengunggah video klarifikasi.

Setelah diposting, awalnya El menganggap biasa-biasa saja semua komentar netizen. Ia cermati banyak netizen memberi dukungan doa pada kesembuhannya, tetapi tidak sedikit pula mengomentari secara sinis dan terkesan membuly dengan stigma negatif pembawa virus.

Baca Juga: https://tribuanapos.net/2020/04/25/sembuh-el-asamau-bagi-kisah-pengobatan-corona/

Kemudian istrinya juga menelepon dan menyampaikan bahwa ada pihak yang menelpon dan memarahi mertuanya bahkan menyebutnya sebagai pembawa virus, El makin merasakan tekanan psikis sekaligus merasa tidak berdaya melindungi keluarganya.

El tahu bahwa jika keluarganya drop, maka akan berpengaruh terhadap kesehatan mereka, apalagi mereka sementara menunggu giliran untuk di swab.

Selain itu, ia melihat banyak informasi yang tidak sesuai, termasuk foto-fotonya yang sengaja diambil dari akun facebooknya dan mengatakan bahwa dia menipu dan hanya mencari sensasi. Ada pula foto-foto hoax yang disebarkan netizen. El kemudian memutuskan untuk mengklarifikasi di unggahan video keduanya.

“Setelah itu saya mulai menunjukan gejala depresi, sampai menelepon seorang psikolog sambil menangis. Saya juga sempat kasih mati HP itu bukan karena saya takut lihat komentar-komentar di FB tetapi saya merasa tidak berguna dengan dunia luar, dengan keluarga. Saya merasa tidak berdaya di ruangan (isolasi) ini,” ungkapnya.

“Dua hari saya drop. Napsu makan hilang, perut mual, sakit kepala hebat yang saya tidak pernah alami sebelumnya. Pikiran saya jadi kosong dan memilih untuk diam dan melamun, tanpa saya sadari akan mengancam keselamatan saya sendiri,” katanya menambahkan.

Baca Juga: https://tribuanapos.net/2020/04/24/pasien-covid-19-ntt-el-asamau-ucap-syukur-sembuh-dari-coronavirus/

El sulit mengendalikan dirinya. Stres tetap menghantuinya hingga malam hari dokter RSU Maya Mauko mengirimkan buku filsafat dan psikologi yang ditulis secara ringan kepadanya untuk dibaca. Alhasil buku tersebut bisa mengembalikan pikiran sehatnya yang sempat hilang. El sadar bahwa gejala stress yang dia alami akan mengancam jiwanya sebagai penderita covid-19.

“Puji Tuhan, malamnya ibu dokter kirim buku lewat perawat dan itu sangat menolong saya. Buku yang sangat tepat. Saya rasa Tuhan yang menggerakan hati dokter Maya untuk kirim bukunya ke saya,” tutur dia.

Merasa nyaman membaca buku tersebut, El kemudian melanjutkan aktivitas membacanya. Ia juga mulai menulis, melakukan olahraga ringan, bahkan belajar mengedit video. Hal yang sangat dia senangi. Selain itu, dia juga mulai menghubungi teman dan keluarganya agar bisa berkomunikasi seperti biasa.

“Setelah dua hari, saya buka HP, baca, tulis dan buka-buka album lama. Saya juga sementara mendirikan Yayasan Dola Koyakoya jadi mulai koordinasi dengan pengurusnya di daerah-daerah di NTT. Nah, setelah itu saya tidak pikiran lagi. Sudah mulai membuat rencana apa yang akan saya lakukan setelah keluar dari kamar isolasi. Itu cukup membantu kesembuhan saya,” kata alumnus IPDN itu.

Baca Juga: https://tribuanapos.net/2020/04/18/foto-foto-hoax-pasien-01-covid-19-ntt-yang-beredar-di-jagat-maya/

El Asamau berpesan kepada seluruh masyarakat agar bisa mendukung pasien covid-19. Jangan membuly atau mencap pasien pembawa virus corona. Sebab dukungan dan rasa solidaritas sangat berpengaruh pada kesembuhan para penderita.

“Dukungan, support dari rekan-rekan dan keluarga sangat membantu kesembuhan saya. Ini wabah, bukan aib,” ujar El sambil mengatakan hari Sabtu (25/4) ia sudah dipulangkan ke rumah dan sementara jalankan isolasi mandiri hingga kondisinya benar-benar pulih.

Dirinya juga berpesan kepada pasien covid-19 di manapun berada agar tidak stres dan drop menghadapi situasi sulit apapun. El berharap pasien tetap fokus pada kesembuhan dan lakukan aktivitas-aktivitas yang disukai selama di isolasi.

El mengakui, kondisi psikis pasien sangat berpengaruh pada kestabilan imunitas tubuh pasien dalam kesembuhan covid-19. Oleh sebab itu masyarakat diminta beri dukungan positif pada pasien karena bila pasien stres maka sangat berpengaruh terhadap imun tubuhnya.

Alumnus Magister Kebijakan Publik American University itu mengakui karya Tuhan dalam hidupnya melalui tangan kasih dari para medis. Ia mengatakan tidak gampang merawat pasien covid-19 menggunakan APD. Ia melihat ketulusan hati para medis yang tidak pernah rasa kuatir dan ragu melayaninya. El lalu menyampaikan salam hormat kepada para medis dan terima kasih untuk semangat yang selalu diberikan hingga dia sembuh dari covid-19.

“Dokter dan perawat selalu berpesan, El kamu akan sembuh, jadi tetap semangat karena kami di sini untuk bersama kamu lewati ini semua. Itu yang membuat saya semangat untuk bisa sembuh. Puji Tuhan hasil tes swab kedua saya negatif. Tuhan baik,” tutup suami Wany Here Wila itu. (*dm).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here