Menjadi Penggerak Moderasi Beragama yang Berbasis Cinta Kasih

Ketua FKUB Kabupaten Alor, Pdt Simon Petrus Amung, S.Th. (Foto: doc tribuanapos.net/dm).
Ketua FKUB Kabupaten Alor, Pdt Simon Petrus Amung, S.Th. (Foto: doc tribuanapos.net/dm).
Oleh: Pdt Simon Petrus Amung, S.Th
A. Pengantar
Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap dan perilaku beragama yang dianut dan dipraktekkan oleh sebagian besar penduduk negeri ini, dari dulu hingga sekarang.​​​​​ Kata “moderasi” berasal dari bahasa Latin “moderatio” yang berarti ke-sedang-an, tidak berlebihan, dan tidak kekurangan, atau seimbang. Dalam bahasa Inggris, istilah ini dikenal sebagai “moderation”, dan dalam bahasa Indonesia kata ini kemudian diserap menjadi moderasi, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai pengurangan kekerasan, atau penghindaran keekstreman. Dan saat kata moderasi diletakkan di samping kata beragama (menjadi moderasi beragama), maka istilah tersebut berarti merujuk pada sikap mengurangi kekerasan, atau menghindari ke-ekstrem-an dalam praktik beragama.
Menurut Edi Junaedi, dalam Jurnal Harmoni: Inilah Moderasi Beragama Perspektif Kemenag, moderasi adalah suatu tindakan untuk mempertahankan keseimbangan, serta upaya membatasi atau mengontrol sesuatu agar tidak berlebihan, sehingga tetap menghadirkan keharmonisan ditengah keberagaman. Karena itu, moderasi dapat diartikan pula sebagai upaya mencegah ekstremisme, fanatisme, dan terorisme; tindakan-tindakan yang memicu kekerasan dan tidak menguntungkan masyarakat secara keseluruhan. Moderasi adalah prinsip penting dalam mempromosikan stabilitas dan keharmonisan sosial, karena dapat membantu mencegah konflik dan memfasilitasi diskusi dan dialog yang produktif antara individu maupun kelompok yang memiliki pandangan yang berbeda.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2025/05/31/buka-kegiatan-moderasi-beragama-kepala-depag-alor-optimis-alor-jadi-contoh-kabupaten-moderasi-beragama-terbaik-di-indonesia/
B. Moderasi Dalam Kekristenan/Alkitab 
Alkitab memang tidak secara eksplisit menyampaikan moderasi dalam beragama, namun pada prinsipnya ada sejumlah perikop yang sejalan dengan moderasi beragama, antara lain seperti yang disaksikan oleh Rasul Paulus dalam Galatia 5:22-23 (Buah-Buah Roh):
  1. Kasih. Moderasi beragama dari perspektif Kristen, dapat dimulai dari ucapan Tuhan Yesus tentang hukum utama yang pertama tentang kasih kepada Allah; dan hukum kedua yang sama dengan itu, yakni: “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:37-39). Di sini Tuhan Yesus mengajarkan bahwa hukum utama adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. Ajaran kasih ini mendukung sikap yang tidak ekstrem dan seimbang dalam beragama, karena menekankan cinta dan pengertian terhadap orang lain. Dan karena itu, orang kristen dianjurkan untuk mengasihi semua manusia, tidak membeda-bedakan dengan menerapkan kasih Allah dalam kehidupan kita sehari-hari, di mana pun berada.
  1. Sukacita. Injil Yohanes 15:11 menekankan sukacita Allah akan menjadi penuh dan diam di dalam kita manusia, jika kita menerapkan kasih kepada Allah dan kepada sesama manusia. Dan sukacita sebagai salah satu buah Roh, bukan karena sekedar perasaan senang, melainkan sebuah kondisi batin yang mendalam, yang bersumber dari kasih karunia Allah yang berdiam di dalam diri orang percaya. Berdasarkan hal ini, maka implementasi dalam moderasi beragama adalah bahwa kita manusia harus saling mengasihi untuk memperoleh sukacita dan tidak boleh ada kekerasan walaupun memiliki perbedaan agama.
  1. Damai Sejahtera. Surat Roma 12:18 menguraikan tentang bagaimana hidup berdamai dengan semua orang: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang”. Ayat ini mengajarkan pentingnya untuk berusaha hidup damai dan bersikap toleran terhadap orang lain, termasuk mereka yang memiliki keyakinan berbeda.
  1. Kesabaran. Kata sabar disini diartikan tidak cepat marah. Saat dalam masalah tertentu, seringkali kita mudah terpancing emosi dan hilang kesabaran. Kesabaran membantu kita untuk tetap tenang dan tidak mudah marah dalam menghadapi perbedaan pandangan dan praktek keagamaan. Teguran Tuhan Yesus terhadap sikap Petrus atas Malkhus dalam Yohanes 18:10, mengajarkan  kita untuk tidak cepat marah dan gegabah. Kesabaran ini penting karena toleransi dan kerukunan antar umat beragama dapat dicapai melalui sikap sabar dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.
  1. Kemurahan. Salah satu  nilai kemurahan dikisahkan dalam Lukas 10:25-37, tentang Orang Samaria Yang Murah Hati. Dalam perumpamaan ini, Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk dapat bermurah hati kepada semua orang, tanpa adanya perbedaan. Dalam implementasi moderasi beragama, kita diharuskan dapat saling berbuat kebaikan dan murah hati tanpa harus membeda-bedakan orang, walaupun berbeda agama.
  2. Kebaikan. Dalam nilai kebaikan, Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk tetap saling berbuat kebaikan, karena kebaikkan itu berasal dari Allah seperti pada Matius 5:16. Karena itu, dalam implementasi moderasi beragama, kita diwajibkan untuk tetap berbuat kebaikan dengan semua orang tanpa membeda bedakan agama walaupun berbeda keyakinan, agar Bapa di sorga dipermuliakan.
  1. Kesetiaan. Matius 25:23 menerangkan pernyataan Tuhan Yesus yang mengajarkan tentang kesetiaan dalam melakukan suatu perkara; yang tentu juga mengajarkan kıta untuk tetap setia dengan keyakinan kita. Dan untuk implementasi moderasi beragama, kita harus tetap setia dengan keyakinan kita, tetapi tidak melakukan tindak kekerasan atau melakukan kejahatan terhadap orang yang menganut kepercayaan lain.
  2. Kelemahlembutan. Seperti Ucapan Bahagia lainnya (Matius 5:1-12), ayat 5 yang berbicara tentang kelemahlembutan adalah menunjuk pada Tuhan Yesus sendiri yang lemah-lembut. Kelamahlembutan sebagai salah satu teladan Tuhan Yesus yang paling berharga, yang menekankan kerendahan hati. Dan dalam nilai kelemahlembutan, kita harus berkata-kata dengan lemahlembut seperti yang dicontohkan oleh Tuhan Yesus (Matius 11:29). Implementasi dari kelemahlembutan dalam moderasi beragama adalah mampu mengalah, tidak berkata-kata kasar dan menyakiti, serta rela memohon maaf meskipun tidak bersalah.
  1. Penguasaan Diri. Kisah Pencobaan Di Padang Gurun dalam Lukas 4:1-13 dan Doa Tuhan Yesus dalam Lukas 22:42: “Janganlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi”, menunjukkan pengendalian diri yang sempurna. Ia tidak terpengaruh dengan apapun, namun Ia tetap ada dalam pengendalian diri untuk taat terhadap maksud pengutusanNya. Dalam nilai penguasaan diri, Tuhan Yesus mengajarkan untuk tetapi menguasai diri kita sendiri dalam segala hal perbedaan. Perbedaan yang saat ini dimaksud adalah dalam menjalankan moderasi beragama, walaupun memiliki perbedaan pendapat, tetapi kita tetap harus menguasai diri dalam keimanan tanpa harus melakukan kekerasan sedikitpun.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2025/05/22/yapenkris-pingdoling-dan-piki-gandeng-cakrawala-ntt-gelar-lokakarya-sekolah-gmit-menulis/
C. Penerapan Nilai Kristiani Bagi Moderasi Beragama: Berdasarkan Buah Roh
Galatia 5:22-23 dalam konteks bermoderasi, berfungsi untuk membantu kita sebagai orang percaya untuk mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana. Dalam pengertian ini, moderasi dipandang sebagai hasil dari hidup yang terhubung dengan Roh Kudus, yang memberikan kemampuan untuk mengendalikan dorongan-dorongan yang tidak sehat dan mengambil keputusan yang bijaksana.
Keharmonisan perdamaian tidak akan pernah terwujud dengan baik, apabila hanya diperjuangan oleh satu pihak tertentu saja; melainkan usaha bersama dalam menjaga kerukunan dengan mengembangkan sikap toleransi yang tinggi. Dan untuk itu, perlu adanya Penggerak Moderasi Beragama Yang Berbasis Cinta Kasih, yang tentunya lahir dari kita sebagai orang percaya, yang meneladani Tuhan Yesus, untuk melakukan pendekatan holistik dan berkelanjutan dalam upaya moderasi beragama. Berikut ini adalah penerapan buah-buah Roh bagi moderasi beragama
  1. Penerapan nilai kasih dalam kehidupan sehari-hari: Belajar untuk memahami dan menguasai makna nilai kasih dalam ajaran kristen, seperti saling mengasihi antar umat kristiani dan antar umat selain kristiani. Walaupun memiliki perbedaan agama, tetapi harus saling mengasihi sebagai saudara/i.
  1. Penerapan nilai sukacita dalam kehidupan sehari-hari: a). Berusaha memperoleh sukacita dengan menunjukkan kasih kepada Allah dan juga kepada sesama manusia. b). Menjauhkan segala bentuk kekerasan terhadap sesama, termasuk yang berbeda keyakinan.
  2. Penerapan nilai damai sejahtera dalam kehidupan sehari-hari: a). Hidup dengan memiliki damai sejahtera dengan kepada kepada siapa pun. b). Menjauhkan sikap diskriminasi dalam segala perbedaan.
  3. Penerapan nilai kesabaran dalam kehidupan sehari-hari: a). Tidak mudah marah ketika diprovokasi dengan perbedaan yang ada, termasuk perbedaan keyakinan. b). Tidak arogan terhadap agama lain maupun agama sendiri.
  4. Penerapan nilai kemurahan dalam kehidupan sehari-hari: a). Saling memberikan senyum, santun dan tegur-sapa antara saudara seiman dan berbeda iman. b). Saling tolong-menolong antara saudara seiman dan berbeda iman.
  5. Penerapan nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari: Saling berbuat kebaikan antara saudara seiman dan berbeda iman, dengan saling membantu, merangkul, mengasihi apabila ada yang mengalami kesusahan, tanpa membeda-bedakan.
  1. Penerapan nilai kesetiaan dalam kehidupan sehari-hari: Setia terhadap kepercayaan yang kita imani, tetapi juga berusaha untuk tidak melakukan tindak kekerasan terhadap siapa pun.
  1. Penerapan nilai kelemahlembutan dalam kehidupan sehari-hari: Bersikap lemah lembut baik secara tutur kata atau pun sikap dengan sesama agama dan berbeda agama, seperti tidak saling mengejek, menghina dan berkata kasar dengan sesama agama dan berbeda agama.
  1. Penerapan nilai penguasaan diri dalam kehidupan sehari-hari: a). Dapat menguasai diri ketika emosi dalam suatu permasalahan yang menjurus kepada perbedaan agama. Sikap ini sangat lah penting dalam diri umat beragama yang mempelajari agama secara baik dan benar. b). Tidak terpengaruh dengan pemikiran sesama agama yang diskriminasi dengan agama lain.
Baca Juga: https://tribuanapos.net/2025/05/03/wakil-gubernur-ntt-lepas-peserta-prosesi-pawai-paskah-gamki-alor-tahun-2025/
D. Kesimpulan
  1. Moderasi beragama juga diterjemahkan sebagai bentuk beragama yang moderat, terbuka dengan siapa saja, dan berada di mana saja, tidak menolak siapapun yang berbeda dengan dirinya.
  2. Pandangan Kristen tentang moderasi, menekankan keseimbangan dalam hidup dan sikap terhadap orang lain, termasuk mereka yang berbeda keyakinan. Moderasi beragama dalam Kekristenan menunjukkan dan menekankan cinta kasih, yang berarti mengasihi Tuhan dan sesama, menghormati perbedaan, dan hidup damai dalam masyarakat.
  3. Kekristenan di kenal dengan ajaran yang penuh kasih dan damai, namun tidak menutup kemungkinan bahwa di dalam tubuh gereja juga, ada pandangan ekstrem yang tidak menunjukkan toleransi terhadap keyakinan yang lain. Oleh karena itu kita perlu terus menggali ajaran Kristus yang penuh kedamaian, untuk perdamaian dan keharmonisan dunia ini.
  4. Dialog lintas agama dalam kehidupan sehari-hari, yang melibatkan berbagai kelompok agama dapat dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap perbedaan. Hal ini tidak hanya akan membangun budaya saling menghormati, tetapi juga mendorong terciptanya kedamaian dan kerukunan di masyarakat yang lebih luas.
REFERENSI
Akitab Edisi 1 (2021), Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta
Junaedi, E. (2019), Inilah Moderasi Beragama Perspektif Kemenag. Harmoni, 18(2). https://doi.org/10.32488/harmoni.v18i2.414.
Kamus Bahasa Indonesia Edisi Elektronik (Pusat Bahasa, 2008).
Rodi, Muhamad. (2023), “Hubungan Moderasi Beragama Dengan Nilai-Nilai Kristiani”, Skripsi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayahtullah. Jakarta
Rosyad, R. (2021), Pengantar Psikologi Agama Dalam Konteks Terapi.
*Penulis adalah Ketua FKUB Kabupaten Alor, tinggal di Kalabahi. Materi penulis ini disampaikan dalam kegiatan Penggerak Moderasi Beragama yang diselenggarakan Bimas Kristen kantor Kementerian Agama Kabupaten Alor-NTT, Rabu 28 Mei 2025 di Kalabahi.